Skip to main content

Ioda Academy

Marcom & Media Relations · 10 menit baca

PESO Model Kampanye Media dan Pengelolaan Anggaran

Daftar Isi

Sorotan

  • PESO Model membantu tim PR mengintegrasikan Paid, Earned, Shared, dan Owned Media dalam satu kampanye. Setiap kanal memiliki kekuatan, kelemahan, biaya, serta fungsi yang berbeda sehingga tidak perlu memperoleh alokasi yang sama.
  • Pengelolaan anggaran perlu dimulai dari objective, memperhitungkan biaya produksi dan distribusi, lalu dipantau selama kampanye berlangsung. Budget yang sudah disetujui bukan angka yang harus dipertahankan secara kaku.
  • Jika satu kanal underperform sementara kanal lain menunjukkan hasil lebih baik, realokasi dapat dilakukan berdasarkan data.
  • Evaluasi akhirnya perlu melihat tidak hanya spending, tetapi juga outcome dan kontribusi kampanye terhadap tujuan organisasi.

Kampanye media sering dimulai dengan pertanyaan, “Berapa budget untuk Instagram, influencer, dan media?” Padahal urutannya seharusnya dibalik. Tim perlu mengetahui objective kampanye, audiens, pesan, dan hasil yang ingin dicapai sebelum menentukan media serta biaya.

Budget Rp1 miliar dapat menghasilkan performa yang sangat berbeda tergantung bagaimana dana tersebut digunakan. Menghabiskan sebagian besar anggaran untuk paid ads dapat menghasilkan reach dalam waktu singkat, tetapi belum tentu membangun kredibilitas. Mengandalkan earned media bisa memperkuat reputasi, tetapi hasilnya tidak dapat dikontrol sepenuhnya. Shared media membuka engagement, sedangkan owned media memberikan kontrol atas narasi sekaligus membangun aset komunikasi jangka panjang.

Karena itu, PESO Model kampanye media membantu tim melihat media sebagai satu sistem, bukan empat pilihan yang berdiri sendiri. Dalam materi Public Relations Specialist Ioda Academy, Paid, Earned, Shared, dan Owned ditempatkan sebagai empat jenis media yang saling menguatkan. Pemilihan kanal kemudian perlu dikaitkan dengan tujuan kampanye, sedangkan anggarannya dikelola melalui proses budgeting, monitoring, optimalisasi, dan evaluasi ROI.

Spin Sucks, sumber awal pengembangan PESO Model oleh Gini Dietrich, juga menekankan bahwa kekuatan framework tersebut terletak pada integrasi. Paid, Earned, Shared, dan Owned bukan sekadar daftar media mix, tetapi perlu saling memperkuat agar komunikasi membangun visibility, credibility, dan trust secara lebih terstruktur.

Pemilihan Media dengan PESO Model

PESO Model mengelompokkan kanal komunikasi menjadi empat bagian, yaitu Paid, Earned, Shared, dan Owned Media. Keempatnya mempunyai fungsi berbeda dalam perjalanan kampanye sehingga keputusan yang tepat bukan menentukan mana yang “terbaik”, melainkan menentukan kombinasi yang paling sesuai dengan objective.

  1. Paid Media

Paid Media adalah distribusi yang membutuhkan pembayaran langsung, misalnya digital advertising, sponsored content, paid influencer, billboard, atau bentuk media placement lainnya.

Kekuatan Paid Media terletak pada kecepatan dan kemampuan targeting. Tim dapat menentukan siapa yang menerima pesan, mengatur budget, melakukan A/B testing, dan meningkatkan distribusi ketika konten menunjukkan performa yang baik.

Namun paid media memiliki keterbatasan. Efek distribusi dapat turun ketika budget dihentikan dan biaya dapat meningkat ketika kompetisi audience semakin tinggi. Paid juga tidak otomatis memiliki tingkat kredibilitas yang sama dengan third-party endorsement.

Karena itu, Paid Media cocok ketika kampanye membutuhkan acceleration, misalnya saat product launch, promosi berbatas waktu, atau amplification terhadap konten yang sudah menunjukkan respons positif.

  1. Earned Media

Earned Media berasal dari pihak ketiga tanpa pembayaran langsung untuk liputan tersebut. Bentuknya dapat berupa press coverage, wawancara, review editorial, expert commentary, atau pemberitaan mengenai milestone perusahaan.

Nilai utamanya adalah credibility. Ketika media atau pihak independen membicarakan organisasi, pesan dapat memperoleh validasi yang tidak bisa sepenuhnya diciptakan melalui iklan.

Keterbatasannya justru berada pada kontrol. PR dapat menawarkan angle, data, spokesperson, dan media kit, tetapi keputusan editorial tetap berada pada media. Hubungan dengan jurnalis juga tidak dibangun dalam satu malam.

Materi menyarankan Earned Media untuk kebutuhan seperti milestone, thought leadership, dan newsworthy moment yang memang memiliki nilai berita.

  1. Shared Media

Shared Media mencakup interaksi dan distribusi yang terjadi melalui audiens, komunitas, maupun jaringan sosial. Contohnya user-generated content, repost, community discussion, komentar, atau percakapan organik.

Keunggulannya berada pada engagement dan advocacy. Audiens tidak hanya menerima pesan, tetapi ikut berpartisipasi dalam distribusinya.

Namun Shared Media juga membawa risiko yang lebih sulit dikontrol. Komentar negatif, interpretasi berbeda, atau backlash dapat berkembang cepat. Karena itu, shared media membutuhkan community management dan social listening yang aktif.

  1. Owned Media

Owned Media merupakan kanal yang dimiliki atau dikontrol organisasi, seperti website, blog, newsletter, microsite, podcast, atau akun resmi brand.

Kanal ini memberikan kontrol tertinggi terhadap narasi. Perusahaan juga membangun aset jangka panjang yang tetap tersedia setelah campaign period selesai.

Kelemahannya adalah pertumbuhan audience secara organik biasanya membutuhkan waktu. Owned Media juga membutuhkan investasi pada content production, platform, SEO, database, dan pengelolaan editorial.

Meski demikian, owned media sering menjadi fondasi yang penting karena organisasi membutuhkan satu sumber informasi utama yang dapat dijadikan rujukan oleh media, audiens, maupun kanal lainnya.

Memilih Media Sesuai Tujuan Kampanye

Kesalahan dalam menggunakan PESO Model kampanye media biasanya bukan karena tim salah memahami definisinya, tetapi karena seluruh kanal digunakan tanpa alasan strategis.

Materi memberikan prinsip sederhana: mulai dari Owned sebagai content foundation, amplifikasi melalui Shared, bangun kredibilitas melalui Earned, kemudian gunakan Paid untuk mempercepat distribusi. Spin Sucks juga menggambarkan PESO sebagai sistem di mana setiap kanal membuat kanal berikutnya lebih kuat.

Contohnya, sebuah perusahaan meluncurkan laporan riset tentang perilaku konsumen.

PESO Model

Paid: konten dengan engagement terbaik kemudian diamplifikasi kepada audience yang lebih spesifik.

Earned: temuan yang mempunyai news value ditawarkan kepada media dan jurnalis industri.

Shared: insight penting dipotong menjadi carousel LinkedIn, video pendek, dan konten untuk employee advocacy.

Owned: laporan lengkap diterbitkan pada website perusahaan.

Dengan pola tersebut, perusahaan tidak perlu membuat materi sepenuhnya berbeda untuk setiap kanal. Satu content asset dapat dikembangkan dan didistribusikan dengan fungsi berbeda.

Pilihan media juga harus mempertimbangkan tujuan. Jika prioritasnya adalah visibility cepat, Paid dapat memperoleh porsi lebih besar. Jika tujuan utama adalah credibility, Earned menjadi lebih penting. Jika targetnya membangun community advocacy, Shared perlu diperkuat. Jika organisasi membutuhkan education dan retention, Owned dapat menjadi pusat strategi.

AMEC Integrated Evaluation Framework juga secara eksplisit memasukkan Paid, Earned, Shared, dan Owned sebagai bagian aktivitas komunikasi terintegrasi yang perlu direncanakan sekaligus diukur.

Pengelolaan Anggaran Kampanye

Setelah media mix terbentuk, tim masuk ke pengelolaan anggaran kampanye. Kesalahan yang cukup umum adalah menentukan budget berdasarkan kebiasaan, misalnya “tahun lalu kita menghabiskan Rp500 juta, jadi tahun ini sekitar Rp600 juta”.

Pendekatan yang lebih logis adalah objective-based budgeting. Tentukan terlebih dahulu hasil yang hendak dicapai, lalu hitung resource yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Materi kelas menyarankan beberapa pertimbangan utama dalam menyusun anggaran realistis, yaitu memulai dari objective, melihat harga pasar terkini, memisahkan fixed dan variable cost, menyiapkan buffer, serta mendokumentasikan justifikasi setiap item untuk kebutuhan approval maupun audit trail.

Pisahkan fixed cost dan variable cost

Pemisahan ini membantu ketika kampanye membutuhkan penyesuaian.

Fixed cost dapat mencakup produksi video utama, creative development, tools monitoring, atau biaya tertentu yang relatif tetap.

Variable cost dapat berupa media spend, influencer fee berbasis aktivitas, amplification budget, atau biaya yang dapat ditambah dan dikurangi selama kampanye.

Ketika performa perlu dioptimalkan, variable cost biasanya menjadi area yang lebih fleksibel untuk direalokasi.

Jangan lupa biaya measurement

Anggaran sering habis untuk produksi dan distribusi, sementara measurement baru dipikirkan menjelang laporan akhir.

Padahal AMEC Integrated Evaluation Framework memasukkan budget dan resources sejak tahap inputs serta mendorong tim menentukan KPI dan target sebelum aktivitas dijalankan.

Artinya, biaya untuk media monitoring, social listening, research, survey, dashboard, atau analytics seharusnya sudah dipertimbangkan ketika campaign plan dibuat.

Jika kampanye bertujuan mengubah persepsi tetapi tidak ada budget untuk mengukur persepsi sebelum dan setelah kampanye, tim akan kesulitan membuktikan apakah objective tersebut tercapai.

Pembagian Budget Tidak Memiliki Rumus Universal

Materi memberikan contoh ilustratif pembagian budget launching berupa Paid Media 40%, Content Production 25%, Earned Media/PR 15%, Event atau Activation 10%, Tools & Analytics 5%, serta Buffer 5%.

Angka tersebut sebaiknya dibaca sebagai contoh struktur, bukan benchmark universal.

Kampanye perusahaan B2B dapat membutuhkan investasi lebih besar pada thought leadership, research, executive communication, dan earned media. Kampanye FMCG mungkin membutuhkan paid media, creator, activation, dan social content lebih tinggi. Campaign stakeholder engagement dapat mengalokasikan lebih sedikit dana untuk advertising karena kebutuhannya lebih banyak pada engagement yang terarah.

Pembagian anggaran sebaiknya menjawab lima pertanyaan:

  1. Apa objective utama kampanye?

  2. Siapa audience yang paling penting?

  3. Di kanal mana mereka paling mungkin menerima pesan?

  4. Aktivitas mana yang paling dekat dengan outcome?

  5. Bagaimana performanya akan diukur?

Jika alasan sebuah budget line hanya “karena biasanya begitu”, alokasinya perlu dievaluasi kembali.

Pemantauan dan Optimalisasi Anggaran

Budget plan adalah titik awal, bukan dokumen yang tidak boleh berubah.

Saat kampanye berjalan, data dapat menunjukkan bahwa asumsi awal tidak sepenuhnya benar. Paid ads di satu platform mungkin memiliki cost per result sangat tinggi. Sementara konten tertentu memperoleh engagement kuat secara organik dan membuka peluang earned media baru.

Pembagian proses optimalisasi ke dalam empat tahap, yaitu:

Pemantauan Proses Anggaran

Track actual spend dibanding budget

Tim perlu mengetahui berapa budget yang telah digunakan dan apakah ada deviasi terhadap rencana.

Monitoring tidak harus menunggu kampanye selesai. Dashboard mingguan dapat menunjukkan:

  • planned budget

  • actual spending

  • remaining budget

  • cost per result

  • performance per channel

Dengan struktur tersebut, overspending dapat diketahui lebih cepat.

Bandingkan biaya dengan hasil

Pengeluaran Rp50 juta belum dapat dinilai mahal atau murah tanpa melihat hasilnya.

Untuk Paid Media, tim dapat menggunakan indikator seperti CPM, CPC, CPL, atau conversion cost sesuai objective. Pada kanal lain, efisiensinya perlu dinilai dengan metrik yang relevan, bukan dipaksa menggunakan ukuran paid advertising.

AMEC menekankan bahwa measurement perlu bergerak dari aktivitas dan outputs menuju outtakes, outcomes, serta impact. Artinya, efisiensi biaya tetap perlu dibaca bersama kualitas hasil komunikasi.

Realokasi ketika data mendukung

Jika Kanal A telah menggunakan 40% budget tetapi hanya memberi kontribusi kecil, sementara Kanal B menunjukkan audience response yang jauh lebih baik, realokasi dapat dipertimbangkan.

Namun jangan membuat keputusan hanya berdasarkan satu metric.

Misalnya Paid Media mendapatkan engagement lebih tinggi daripada Earned. Hal ini tidak otomatis berarti seluruh budget harus dipindahkan ke Paid karena fungsi kedua kanal berbeda. Earned mungkin memberikan reputational credibility yang memang tidak tercermin melalui engagement rate.

Optimalisasi harus tetap kembali ke objective.

Mengukur ROI Kampanye

Pada bagian akhir, anggaran perlu dihubungkan dengan value yang dihasilkan.

Untuk financial return yang memang dapat diatribusikan secara memadai, materi menggunakan rumus dasar:

ROI = ((Return − Investment) ÷ Investment) × 100%

Misalnya sebuah campaign menggunakan investasi Rp800 juta dan menghasilkan return finansial yang dapat diatribusikan sebesar Rp2,4 miliar.

Maka:

ROI = ((Rp2,4 miliar − Rp800 juta) ÷ Rp800 juta) × 100% = 200%

Namun penggunaan istilah ROI dalam PR perlu hati-hati.

Tidak seluruh nilai komunikasi dapat atau sebaiknya dipaksakan menjadi rupiah. Kampanye juga dapat berkontribusi terhadap brand awareness, trust, stakeholder relationship, reputation, policy change, employee retention, atau bentuk organizational impact lainnya.

ROI Kampanye

AMEC menekankan bahwa komunikasi perlu dievaluasi sampai pada outcomes dan impact, dan impact dapat berbentuk peningkatan reputasi, hubungan stakeholder, peningkatan penjualan, perubahan kebijakan, maupun perubahan organisasi atau sosial.

Karena itu, laporan tidak harus memaksakan semua keberhasilan menjadi satu angka ROI finansial.

Untuk campaign dengan sales objective, financial ROI mungkin sangat relevan. Untuk corporate reputation campaign, ukuran keberhasilan dapat lebih tepat berupa perubahan trust, sentiment, quality of coverage, stakeholder relationship, atau indikator reputasi yang telah ditentukan sejak awal.

Prinsipnya adalah gunakan ukuran yang sesuai dengan objective.

Menghubungkan PESO Model, Budget, dan Hasil Kampanye

Kekuatan PESO Model kampanye media baru terasa ketika media planning, anggaran, dan measurement dihubungkan dalam satu alur.

Contohnya:

PESO Model, Budget, dan Hasil Kampanye

Dari sini, evaluasi menjadi lebih transparan. Manajemen dapat melihat bukan hanya berapa uang yang dihabiskan, tetapi mengapa suatu kanal mendapat budget, hasil apa yang diharapkan, dan apakah kontribusinya sesuai dengan perannya.

Jika hasilnya berbeda dari asumsi awal, insight tersebut menjadi masukan untuk kampanye berikutnya. Media mix tidak harus diwariskan secara otomatis dari tahun ke tahun.

Pendekatan ini juga sejalan dengan AMEC, yang menyarankan planning, resources, budget, aktivitas PESO Model, KPI, outcome, dan impact dibaca sebagai satu perjalanan evaluasi, bukan sebagai bagian-bagian terpisah.

Kesimpulan

PESO Model kampanye media membantu tim Public Relations memahami bahwa Paid, Earned, Shared, dan Owned memiliki fungsi yang berbeda. Paid unggul untuk acceleration dan targeting, Earned memberikan third-party credibility, Shared membuka engagement dan advocacy, sedangkan Owned memberikan kontrol sekaligus membangun aset komunikasi jangka panjang.

Tidak ada alasan seluruh kanal harus digunakan dengan porsi yang sama. Pemilihan media perlu mengikuti objective, audience, kebutuhan credibility, karakter pesan, dan tahap kampanye.

Prinsip yang sama berlaku pada anggaran. Budget kampanye sebaiknya dibangun berdasarkan kebutuhan strategi, bukan persentase baku. Biaya produksi, distribusi, media relations, tools, measurement, dan contingency perlu diperhitungkan sejak awal.

Setelah kampanye berjalan, actual spending dan performa perlu dimonitor. Budget dapat direalokasi jika data menunjukkan ada kanal yang underperform atau peluang baru yang lebih relevan. Namun optimalisasi tetap harus mempertimbangkan fungsi masing-masing kanal, bukan hanya mengejar metric termurah.

Pada akhirnya, pengelolaan kampanye yang baik tidak berhenti pada pertanyaan “berapa yang kita habiskan?” Tim juga perlu mampu menjelaskan mengapa budget dialokasikan ke kanal tertentu, hasil apa yang diperoleh, bagaimana audiens merespons, dan sejauh mana kampanye berkontribusi terhadap objective organisasi.

Jangan ragu untuk pelajari lebih lanjut skill apa saja yang harus di miliki untuk posisi public relations specialist termasuk PESO Model. Kamu bisa membaca ulang artikel sebelumnya supaya lebih jago lagi dalam hal ini. DI SINI

Kelas Terkait

BOOTCAMP - Public Relations Specialist

Tingkatkan kemampuan Public Relations untuk membangun reputasi, menjangkau audiens yang tepat, mengelola media, dan merespons krisis komunikasi dengan percaya diri

Lihat Kelas

Referensi

  1. Spin Sucks — The PESO Model®
  2. AMEC — Integrated Evaluation Framework
  3. AMEC — Taxonomy of Evaluation

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan PESO Model?

PESO Model adalah framework komunikasi yang mengintegrasikan Paid, Earned, Shared, dan Owned Media. Nilai utamanya terletak pada bagaimana empat jenis media tersebut saling memperkuat, bukan sekadar digunakan secara terpisah.

Apakah semua kampanye perlu memakai seluruh kanal PESO?

Tidak. Kombinasi media perlu mengikuti tujuan, audiens, resource, serta konteks kampanye. Sebuah corporate affairs campaign dapat memiliki kebutuhan media yang berbeda dengan product launch consumer.

Bagaimana cara menentukan pembagian anggaran kampanye?

Mulailah dari objective dan audiens. Setelah itu petakan kebutuhan produksi, distribusi, Paid Media, Earned Media, activation, tools, measurement, dan contingency. Hindari menggunakan persentase yang sama untuk seluruh kampanye tanpa melihat konteks.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀