Daftar Isi
Sorotan
- Training Needs Analysis membantu tim L&D memastikan program pengembangan tidak dibuat berdasarkan asumsi. Analisis dilakukan dengan melihat kebutuhan organisasi, tuntutan jabatan, dan kondisi kompetensi individu.
- Data aktual kemudian dibandingkan dengan profil kompetensi target melalui gap analysis dan competency matrix. Namun tidak setiap gap harus diselesaikan dengan kelas pelatihan.
- Tim tetap perlu melihat ukuran gap, dampak strategis, jumlah karyawan terdampak, urgensi, biaya, serta akar masalah sebelum menentukan intervensi.
Setiap tahun perusahaan bisa mengeluarkan anggaran besar untuk pelatihan. Karyawan dikirim ke workshop, mengikuti webinar, mendapatkan akses e-learning, sampai menghadiri leadership program. Namun satu pertanyaan penting sering terlambat diajukan: apakah kompetensi yang dikembangkan memang menjadi kebutuhan utama pekerjaan dan organisasi?
Pelatihan yang menarik belum tentu relevan. Program leadership belum tentu diperlukan semua supervisor. Workshop komunikasi belum tentu menyelesaikan rendahnya pelayanan pelanggan jika akar masalah sebenarnya berasal dari sistem kerja yang lambat. Begitu juga ketika performa seorang karyawan menurun, penyebabnya tidak selalu kurang pengetahuan atau keterampilan.
Di sinilah Training Needs Analysis menjadi fondasi penting dalam Learning & Development. TNA sebagai proses sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan pada level individu, tim, maupun organisasi. Tujuannya adalah memastikan program yang diberikan relevan dengan kebutuhan kerja, tepat sasaran dalam menutup gap kompetensi, serta memberi dampak terhadap kinerja dan perkembangan karyawan.
Pendekatan ini sejalan dengan SHRM yang menempatkan learning needs assessment sebagai proses sistematis untuk menemukan capability gap berdasarkan sumber seperti business plan, performance review, dan masukan manajer. Hasil analisis tersebut kemudian membantu organisasi menentukan prioritas investasi pengembangan secara lebih berbasis bukti.
Apa Itu Training Needs Analysis?
Training Needs Analysis (TNA) adalah proses untuk mencari tahu kompetensi apa yang sebenarnya dibutuhkan organisasi, jabatan, atau individu, lalu membandingkannya dengan kondisi yang tersedia saat ini. Dari perbandingan tersebut, tim L&D dapat menentukan apakah terdapat gap dan intervensi pengembangan apa yang paling tepat.
Jadi, TNA tidak dimulai dari pertanyaan “training apa yang sedang populer?”. Pertanyaan awalnya justru lebih dekat dengan kebutuhan bisnis: apa yang ingin dicapai organisasi, kemampuan apa yang diperlukan untuk mencapainya, dan apakah karyawan saat ini sudah memiliki kemampuan tersebut?
Misalnya perusahaan menargetkan waktu pelayanan pelanggan turun dari 15 menit menjadi 8 menit. Tim L&D tidak seharusnya langsung mengadakan customer service training. Analisis perlu melihat lebih dahulu apakah penyebab lambatnya layanan berasal dari kemampuan komunikasi, penguasaan sistem, pengetahuan produk, proses approval yang panjang, atau bahkan jumlah personel yang tidak memadai.
Apabila penyebab utamanya proses approval, training komunikasi tidak menyelesaikan masalah. Inilah salah satu nilai penting Training Needs Analysis: membedakan kebutuhan pembelajaran dari persoalan lain yang membutuhkan perubahan proses, sistem, job design, atau manajemen.
Penelitian mengenai model konseptual TNA juga menunjukkan pentingnya melihat kebutuhan secara komprehensif pada level organisasi, pekerjaan, dan individu agar pelatihan tidak berdiri terpisah dari kebutuhan nyata perusahaan.
Tiga Level Training Needs Analysis
Materi membagi TNA ke dalam tiga pendekatan utama, yaitu Organization-Based, Job-Based, dan Person-Based. Ketiganya tidak saling menggantikan. Untuk memperoleh analisis yang lebih lengkap, proses dapat dimulai dari arah organisasi, turun ke tuntutan jabatan, lalu dipersonalisasi ke kondisi masing-masing karyawan.

1. Organization-Based TNA
Pada level organisasi, pertanyaannya adalah kompetensi apa yang dibutuhkan perusahaan agar strategi bisnis dapat tercapai?
Tim L&D dapat menelaah business plan, digital roadmap, strategic priorities, target ekspansi, perubahan proses, maupun kebutuhan transformasi perusahaan. Wawancara dengan pimpinan juga membantu mengidentifikasi unit atau capability yang paling kritis.
Misalnya perusahaan sedang menjalankan transformasi digital. Dari analisis strategis tersebut dapat muncul kebutuhan capability seperti data literacy, digital leadership, change management, atau penggunaan teknologi tertentu.
Output-nya bukan langsung daftar seluruh pelatihan karyawan, melainkan peta kompetensi strategis dan prioritas pengembangan organisasi. Materi menempatkan output Organization-Based TNA sebagai peta kompetensi strategis serta daftar program prioritas untuk mendukung kebutuhan tersebut.
2. Job-Based TNA
Setelah kebutuhan organisasi dipahami, analisis turun ke jabatan. Pertanyaannya adalah kompetensi dan kualifikasi apa yang diperlukan agar suatu pekerjaan dapat dilakukan sesuai standar?
Job Description dan Job Specification menjadi sumber penting. Selain itu, data dapat diperoleh melalui interview, kuesioner, observasi, maupun benchmarking. Dari sini tim dapat membangun Target Competency Profile untuk suatu posisi.
Misalnya seorang Procurement Staff dituntut memiliki kompetensi vendor analysis, negotiation, penggunaan ERP, penyusunan RFQ, dan pemahaman technical specification. Setiap kompetensi kemudian memiliki level yang dibutuhkan agar pekerjaan dapat dilakukan secara mandiri. Output Job-Based TNA antara lain profil kompetensi target, matriks target versus aktual, serta rekomendasi program pengembangan sesuai role.
3. Person-Based TNA
Level ketiga melihat individu. Di sinilah pertanyaan menjadi lebih spesifik: siapa yang membutuhkan pengembangan dan kompetensi apa yang perlu ditingkatkan?
Data aktual dapat diperoleh dari self-assessment, penilaian atasan, observasi kerja, performance appraisal, competency assessment, atau sumber evidence lain. Profil aktual kemudian dibandingkan dengan target yang ditetapkan untuk posisinya.
Hasilnya membuat program pengembangan lebih presisi. Dua orang dengan jabatan sama tidak otomatis membutuhkan pelatihan yang sama. Karyawan A mungkin memiliki gap pada technical skill, sedangkan karyawan B sudah kuat secara teknis tetapi membutuhkan improvement pada stakeholder communication.
Pendekatan berbasis competency assessment juga ditemukan dalam studi pada industri hotel, di mana Training Needs Assessment digunakan bersama competency framework dan 360-degree feedback untuk mengidentifikasi gap serta merancang program pengembangan yang lebih spesifik.
Data Apa yang Dibutuhkan untuk Menentukan Kebutuhan Pelatihan?
TNA yang baik memerlukan evidence. Tidak cukup hanya mengandalkan permintaan seorang manajer yang mengatakan, “tim saya butuh training komunikasi.”
Beberapa metode pengumpulan data untuk Training Needs Analysis (TNA) ini, seperti direct observation, interview, questionnaire, job sampling, dan critical incident. Setiap metode memiliki keunggulan sekaligus keterbatasan. Observasi sangat baik untuk melihat proses kerja aktual tetapi lebih sulit menangkap aspek mental atau emosional. Interview memberikan insight mendalam tetapi lebih subjektif. Questionnaire efisien untuk populasi besar, namun kualitasnya bergantung pada pemahaman dan kejujuran responden.
Pemilihan metode perlu mempertimbangkan kondisi lapangan. Jika perusahaan memiliki 100 operator dengan aktivitas yang relatif seragam, survey ditambah observasi sampel bisa lebih efisien daripada mewawancarai semua orang satu per satu. Sebaliknya, untuk posisi strategis atau persoalan yang kompleks, wawancara dengan atasan dan pemegang jabatan dapat memberikan konteks yang lebih dalam.
Dalam praktik, kombinasi beberapa sumber biasanya lebih kuat karena satu sumber dapat memvalidasi sumber lainnya. Performance appraisal bisa menunjukkan skor kompetensi rendah, interview menjelaskan penyebabnya, sementara observasi mengkonfirmasi bagaimana gap tersebut terlihat saat pekerjaan dilakukan.
Alur Training Needs Analysis dari Strategi hingga Gap Kompetensi
Terdapat alur TNA dalam lima tahap yang saling terhubung: analisis tujuan organisasi, identifikasi profil target, evaluasi profil aktual, gap analysis dan matriks kompetensi, lalu penyusunan training plan.
Tahap pertama menjawab apa target bisnis dan strategi perusahaan? Tahap kedua mencari skill apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut? Tahap ketiga memotret bagaimana kompetensi karyawan saat ini? Baru setelah ketiganya tersedia, target dan aktual dibandingkan.
Sebagai contoh, perusahaan ingin meningkatkan efisiensi pengadaan sebesar 15%. Dari objective tersebut, Procurement Staff diharapkan mampu mengelola vendor secara mandiri, melakukan analisis harga, menyusun RFQ lengkap, memahami spesifikasi teknis, bernegosiasi, dan menggunakan ERP.
Jika data aktual menunjukkan seorang staf sudah kuat pada administrasi tetapi lemah dalam negosiasi, vendor analysis, dan penggunaan ERP, maka kebutuhan pengembangannya tidak perlu mencakup seluruh pekerjaan procurement. Fokus dapat diarahkan pada kompetensi yang memang memiliki kesenjangan.
Prinsip ini membuat Training Needs Analysis lebih efisien. Perusahaan tidak mengeluarkan biaya untuk mengajarkan sesuatu yang sebenarnya sudah dikuasai karyawan.
Gap Analysis: Membandingkan Kompetensi Target dan Aktual
Gap Analysis merupakan tahap ketika level kompetensi yang dibutuhkan dibandingkan dengan level aktual karyawan. Terdapat tiga kondisi utama.

Status quo berarti kompetensi sudah berada pada level yang diperlukan sehingga tidak perlu memaksakan intervensi.
Development gap adalah kondisi yang paling sering dikaitkan dengan kebutuhan pelatihan. Misalnya posisi membutuhkan competency level 4 pada komunikasi, tetapi karyawan baru berada pada level 2. Gap sebesar dua level menunjukkan adanya kebutuhan pengembangan yang cukup berarti.
Utilization gap perlu dibaca secara berbeda. Jika level karyawan justru jauh di atas kebutuhan role, mengirimnya ke training tambahan untuk kompetensi yang sama tidak banyak memberi nilai. Materi menyarankan alternatif seperti job enrichment, rotation, atau promotion agar kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan lebih optimal.
Inilah alasan gap analysis tidak hanya berfungsi mencari siapa yang kurang, tetapi juga melihat apakah kompetensi seseorang sudah dimanfaatkan secara tepat.
Menyusun Matriks Kompetensi agar Gap Lebih Mudah Dibaca
Competency matrix membantu membuat data tersebut lebih terstruktur. Materi membagi kompetensi menjadi empat kelompok, yaitu Professional, Methodical, Social, dan Personal Competencies.
Professional Competencies berhubungan dengan technical knowledge dan skill khusus suatu pekerjaan. Methodical Competencies berkaitan dengan cara bekerja secara sistematis, misalnya time management atau problem solving. Social Competencies mencakup komunikasi, collaboration, dan conflict resolution. Sementara Personal Competencies berkaitan dengan karakter atau perilaku individu seperti punctuality dan initiative.
Level kemudian dapat diberikan menggunakan skala sederhana:
1 = Weak | 2 = Fair | 3 = Good | 4 = ExcellentDapat diperhatikan contoh competency matrix dengan target profile dan level aktual beberapa karyawan. Area yang berada di bawah target ditandai sebagai divergent performance sehingga kebutuhan pengembangan dapat terlihat secara visual.
Misalnya:

Tabel seperti ini jauh lebih informatif dibanding pernyataan umum bahwa seseorang “perlu meningkatkan soft skill.”
Komunikasi mempunyai gap 2, Manajemen Waktu gap 1, Penggunaan CRM tidak memiliki gap, dan Negosiasi gap 1. Tim L&D kemudian mempunyai dasar lebih konkret untuk menentukan prioritas serta bentuk intervensi.
Apakah Semua Gap Harus Diselesaikan dengan Training?
Jawabannya tidak.
Ini bagian penting yang membedakan TNA dari sekadar membuat training calendar. Setelah gap ditemukan, tim masih perlu menentukan mengapa gap terjadi dan apakah pelatihan merupakan solusi yang tepat.
Terdapat contoh bahwa gap kecil satu level dapat ditangani melalui on-the-job learning atau mentoring, sedangkan gap lebih besar dapat membutuhkan pelatihan yang lebih terstruktur. Tipe gap juga menentukan tindakan. Target yang lebih tinggi dari aktual membutuhkan pengembangan, sedangkan kondisi overqualified membutuhkan solusi pemanfaatan kompetensi yang berbeda.
Penentuan intervensi juga dapat mempertimbangkan dampak strategis, jumlah orang terdampak, biaya dibanding benefit, tingkat urgensi, serta ketersediaan resource. Sebuah competency gap yang dialami 50 karyawan dan langsung berpengaruh terhadap strategic objective tentu memiliki prioritas berbeda dari gap administratif ringan yang dialami satu orang.
Materi bahkan mengajak tim membedakan skill deficiency dan will deficiency. Jika karyawan belum tahu bagaimana melakukan pekerjaan, training, practice, atau feedback mungkin relevan. Namun jika orang sebenarnya mampu tetapi tidak mau menjalankan standar karena motivasi, reward system, hambatan kerja, atau job design, training bukan otomatis solusi.
Prinsipnya sederhana: jangan menggunakan training untuk memperbaiki masalah yang bukan masalah kompetensi.
Menentukan Prioritas Kebutuhan Pengembangan
Setelah competency gap dan akar masalah dipahami, kebutuhan dapat diprioritaskan. Materi menyarankan untuk melihat kompetensi yang paling strategis, menandai gap besar, lalu mengurutkan prioritas berdasarkan urgensi strategis, ukuran gap, dan efisiensi biaya.
Sebagai contoh, organisasi dapat memilih lebih dahulu kompetensi yang memenuhi kombinasi berikut: gap-nya besar, berkaitan langsung dengan target bisnis, dialami cukup banyak karyawan, dan membutuhkan peningkatan dalam waktu dekat.
Hasil rekomendasi dapat disusun dengan sederhana:

Format serupa digunakan pada materi untuk menunjukkan bahwa rekomendasi pengembangan perlu mengikuti kondisi gap, bukan memberikan satu jenis training yang sama kepada semua orang.
Studi terbaru mengenai competency gap juga menunjukkan nilai pendekatan diagnostik. Penelitian pada 2026 menemukan bahwa kebutuhan pengembangan yang semula dapat terlihat sebagai kelemahan individu ternyata memiliki akar pada level organisasi. Hal ini memperkuat pentingnya melihat gap dalam konteks yang lebih luas sebelum menetapkan intervensi.
Kesimpulan
Training Needs Analysis membantu tim L&D bergerak dari pendekatan “kita mau mengadakan training apa?” menjadi “kompetensi apa yang benar-benar perlu dikembangkan untuk mencapai kebutuhan pekerjaan dan organisasi?”
Prosesnya dimulai dari arah bisnis. Organization-Based TNA mengidentifikasi capability yang dibutuhkan strategi. Job-Based TNA menerjemahkannya menjadi target competency per role. Person-Based TNA kemudian membandingkan tuntutan tersebut dengan profil aktual individu.
Gap Analysis dan competency matrix membuat perbedaan target dan kondisi aktual terlihat lebih terukur. Dari sana, perusahaan dapat mengetahui kompetensi mana yang sudah sesuai, mana yang masih membutuhkan pengembangan, dan apakah terdapat karyawan yang justru memiliki kemampuan di atas tuntutan role.
Namun ditemukannya gap belum otomatis berarti harus mengadakan training. Tim perlu mempertimbangkan besarnya gap, dampaknya terhadap strategi, jumlah orang terdampak, urgensi, biaya, resource, serta akar masalahnya. Jika persoalannya adalah sistem, job design, motivasi, atau hambatan operasional, solusi non-training bisa lebih tepat.
TNA yang baik pada akhirnya bukan menghasilkan daftar kelas paling panjang. Hasil yang lebih bernilai adalah keputusan pengembangan yang dapat menjelaskan siapa membutuhkan pengembangan, kompetensi apa yang perlu ditingkatkan, seberapa besar gap-nya, mengapa kebutuhan tersebut penting, dan intervensi apa yang paling tepat untuk menutupnya.
Kamu bisa pelajari dan praktik lebih lanjut mengenai Training Needs Analysis. DI SINI
Kelas Terkait
BOOTCAMP - Learning and Development (L&D) Specialist
Kuasai proses L&D secara end-to-end, dari talent mapping dan TNA hingga merancang kurikulum, program pelatihan, assessment, dan Individual Development Plan berbasis kompetensi
Lihat KelasReferensi
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa yang dimaksud dengan Training Needs Analysis?
Training Needs Analysis adalah proses sistematis untuk menentukan kebutuhan pelatihan dan pengembangan berdasarkan tuntutan organisasi, jabatan, dan kondisi kompetensi aktual karyawan.
Apa perbedaan Organization-Based, Job-Based, dan Person-Based TNA?
Organization-Based melihat kebutuhan strategis perusahaan. Job-Based menentukan kompetensi yang diperlukan sebuah jabatan. Person-Based membandingkan kemampuan aktual individu dengan profil kompetensi targetnya.
Apa yang dimaksud dengan competency gap?
Competency gap adalah selisih antara level kompetensi target yang dibutuhkan pekerjaan dengan level aktual yang dimiliki karyawan. Jika target lebih tinggi dari aktual, terdapat development gap yang perlu dianalisis lebih lanjut.
Diskusi