Skip to main content

Ioda Academy

Learning Design · 8 menit baca

Training Plan Karyawan: Dari TNA ke Rencana Pelatihan

Daftar Isi

Sorotan

  • Training Needs Analysis tidak berhenti ketika competency gap berhasil ditemukan. Hasil analisis perlu diterjemahkan menjadi training plan yang menjelaskan siapa yang membutuhkan pengembangan, kompetensi apa yang menjadi prioritas, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, metode yang digunakan, waktu pelaksanaan, dan siapa yang bertanggung jawab.
  • Training plan juga tidak harus selalu berupa kelas formal. Gap tertentu dapat ditangani melalui coaching, mentoring, praktik kerja, atau self-learning sesuai ukuran dan akar masalahnya.

Tim L&D sudah menyelesaikan Training Needs Analysis. Kompetensi target sudah tersedia, kemampuan aktual karyawan sudah dinilai, dan beberapa gap mulai terlihat. Lalu apa tahap berikutnya?

Jawabannya bukan langsung mencari vendor training.

Hasil TNA perlu diterjemahkan terlebih dahulu menjadi training plan karyawan yang cukup jelas untuk dijalankan. Tanpa tahap ini, perusahaan mungkin sudah mengetahui adanya gap kompetensi tetapi masih kesulitan menentukan siapa yang harus dikembangkan, kemampuan apa yang menjadi prioritas, metode apa yang paling sesuai, kapan program dilaksanakan, dan siapa yang bertanggung jawab.

Dalam proses TNA, training plan karyawan berada setelah organisasi memahami tujuan bisnis, menentukan profil kompetensi target, mengevaluasi kemampuan aktual, dan melakukan gap analysis. Dengan urutan ini, program pelatihan menjadi hasil dari kebutuhan yang sudah teridentifikasi, bukan daftar kelas yang dibuat lebih dahulu lalu dicocokkan kepada karyawan.

CIPD juga menekankan bahwa hasil learning needs analysis perlu digunakan untuk memprioritaskan performance gap dan menyusun learning and development plan berdasarkan kebutuhan serta sumber daya yang tersedia. (cipd.org)

Menyusun Rencana Pelatihan (Training Plan)

Training plan karyawan adalah dokumen kerja yang menerjemahkan hasil analisis kebutuhan menjadi rencana pengembangan yang lebih operasional. Dokumen ini membantu tim L&D menjawab beberapa pertanyaan dasar: kompetensi apa yang perlu dikembangkan, siapa target pesertanya, kemampuan apa yang diharapkan setelah program, bagaimana metode belajarnya, kapan pelaksanaannya, dan siapa yang bertanggung jawab.

Karena bersumber dari TNA, setiap program di dalam training plan seharusnya mempunyai hubungan dengan competency gap yang sudah ditemukan. Jika karyawan telah mencapai level kompetensi yang dituntut pekerjaannya, tidak ada alasan memasukkannya ke pelatihan yang sama hanya karena seluruh anggota departemen dijadwalkan mengikuti program tersebut.

Sebuah training plan yang cukup lengkap dapat memuat beberapa komponen berikut:

Elemen Training Plan

Komponen tersebut membantu training plan bergerak dari sekadar jadwal menjadi rencana yang dapat dieksekusi dan ditelusuri.

Kalimat seperti “Q3: Training Komunikasi untuk Tim Sales” misalnya, masih terlalu umum. Tim belum mengetahui siapa yang benar-benar membutuhkan pengembangan, komunikasi dalam konteks apa yang ingin diperbaiki, seberapa besar gap-nya, maupun kemampuan apa yang harus terlihat setelah training selesai.

Menentukan Prioritas dalam Training Plan Karyawan

Tidak semua competency gap mempunyai tingkat kepentingan yang sama. Jika perusahaan menemukan 20 kebutuhan pengembangan sementara anggaran hanya cukup untuk lima program, tim L&D perlu menentukan prioritas.

Urutan prioritas dapat dilihat dari beberapa hal, seperti keterkaitan kompetensi dengan strategi organisasi, besarnya gap, tingkat urgensi, serta efisiensi biaya. Kompetensi yang langsung memengaruhi keberhasilan implementasi strategi biasanya perlu ditempatkan lebih tinggi daripada gap minor yang tidak berdampak besar pada pekerjaan.

Misalnya perusahaan sedang menerapkan ERP baru dan menemukan dua kebutuhan berikut:

  • Staf Finance memiliki gap satu level pada presentation skill.

  • Staf operasional memiliki gap dua level pada penggunaan ERP yang akan mulai digunakan bulan depan.

Keduanya merupakan kebutuhan pengembangan. Namun kemampuan menggunakan ERP lebih mendesak karena langsung berhubungan dengan keberlangsungan proses bisnis, mempunyai gap lebih besar, dan dibutuhkan dalam waktu dekat.

Selain ukuran gap, prioritas juga dapat mempertimbangkan jumlah karyawan terdampak, besarnya benefit dibanding biaya, tingkat urgensi, serta ketersediaan trainer atau resource pengembangan.

Dengan pendekatan ini, prioritas pelatihan tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat mengajukan permintaan ke HR, tetapi oleh bukti kebutuhan dan dampaknya terhadap kinerja.

Merumuskan Learning Objective yang Jelas

Setelah topik pelatihan ditentukan, training plan karyawan perlu mempunyai learning objective. Tujuan ini menjelaskan kemampuan apa yang harus dapat dilakukan peserta setelah menyelesaikan program.

Learning objective dapat dirumuskan dengan prinsip SMART dan ABCD, yaitu Audience, Behavior, Conditions, dan Degree. Pendekatan tersebut membantu membuat tujuan lebih spesifik dan terukur.

Bandingkan dua contoh berikut.

Kurang spesifik:
“Peserta memahami financial reporting.”

Lebih operasional:
“Setelah pelatihan, peserta mampu menyusun laporan keuangan bulanan dengan akurasi minimal 98% sesuai format perusahaan.”

Versi kedua jauh lebih mudah digunakan untuk menentukan materi, metode, praktik, dan cara mengevaluasi peserta.

Contoh lain:

Terlalu umum:
“Peserta memahami penggunaan CRM.”

Lebih jelas:
“Setelah sesi praktik, peserta mampu membuat dan memperbarui data pelanggan pada CRM sesuai SOP tanpa bantuan atasan.”

Learning objective pada akhirnya menjadi penghubung antara competency gap → proses belajar → kemampuan yang diharapkan.

Pilih Metode Pengembangan Berdasarkan Besarnya Gap

Training plan tidak identik dengan kalender classroom training.

Metode pengembangan dapat berupa workshop, e-learning, coaching, mentoring, simulasi, role-play, guided self-study, praktik langsung, hingga kombinasi beberapa metode. Pilihannya perlu mengikuti kebutuhan dan ukuran gap, bukan preferensi tim L&D semata.

Pada contoh training plan karyawan, kebutuhan Financial Reporting dapat menggunakan classroom workshop, Advanced Excel menggunakan hands-on lab, komunikasi menggunakan role-play coaching, sedangkan kebutuhan pembelajaran mandiri dapat menggunakan guided self-study.

Gap kecil dalam kondisi tertentu dapat ditangani dengan coaching atau on-the-job learning. Misalnya seorang staf sebenarnya sudah dapat melakukan presentasi, tetapi belum konsisten menyusun cerita dan menjelaskan data. Coaching dengan atasan atau review presentasi rutin bisa lebih efisien dibanding mengirimnya ke workshop tiga hari.

Sebaliknya, jika organisasi menerapkan software baru yang benar-benar belum dikuasai banyak karyawan, pelatihan formal disertai simulasi atau praktik terstruktur dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.

CIPD juga menekankan bahwa learning needs analysis seharusnya mengarah pada pemilihan solusi pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan, bukan otomatis menghasilkan satu jenis training untuk setiap performance gap. (cipd.org)

Tentukan Siapa yang Perlu Dilatih dan Kapan Dilaksanakan

Salah satu keunggulan training plan karyawan yang berbasis TNA adalah target pesertanya dapat dibuat lebih presisi.

Kolom Who Needs Training tidak seharusnya otomatis diisi “seluruh staf”. Gunakan data competency gap untuk menentukan siapa yang memang membutuhkan intervensi. Dengan cara ini, perusahaan tidak menghabiskan waktu dan anggaran untuk melatih orang yang sebenarnya sudah memenuhi target.

Waktu pelaksanaan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan bisnis. Training penggunaan software sebaiknya selesai sebelum go-live. Pelatihan frontliner mungkin perlu dipercepat menjelang pembukaan cabang baru. Program leadership dapat dirancang lebih panjang karena membutuhkan proses praktik dan feedback yang berkelanjutan.

SHRM juga menempatkan development action bersama ownership dan timeline sebagai bagian penting dari development planning agar rencana pengembangan tidak berhenti sebagai daftar aspirasi. (shrm.org)

Praktik Sederhana Menyusun TNA

Agar alurnya mudah dipahami, berikut contoh sederhana dengan konteks Procurement Staff.

Studi Kasus: Raka, Procurement Staff

Raka bekerja sebagai Procurement Staff di sebuah perusahaan manufaktur. Perusahaan sedang berupaya meningkatkan efisiensi pengadaan dan menargetkan setiap staf mampu menangani vendor utama secara mandiri.

Hasil evaluasi atasan menunjukkan tiga hal:

  1. Raka masih beberapa kali salah membandingkan harga dan spesifikasi vendor.

  2. Raka belum percaya diri melakukan negosiasi harga dan pembahasan SLA.

  3. Raka masih memerlukan bantuan senior ketika menjalankan proses PR–PO pada ERP.

Kondisi tersebut serupa dengan contoh pekerjaan procurement yang menuntut kemampuan membandingkan vendor, menyusun dokumen pengadaan, melakukan negosiasi, serta menjalankan sistem procurement secara mandiri.

Untuk membuat kasusnya sederhana, gunakan skala:

1 = Weak | 2 = Fair | 3 = Good | 4 = Excellent

Anggap perusahaan menetapkan level 3 sebagai target kemandirian pada ketiga kompetensi.

Langkah 1: Tentukan Kebutuhan Bisnis

Jangan mulai dengan menentukan nama training. Target bisnis perusahaan adalah meningkatkan efisiensi procurement dan membuat Procurement Staff mampu menangani vendor secara mandiri. Berarti kebutuhan pengembangan Raka perlu mempunyai hubungan langsung dengan proses pengadaan.

Tujuan bisnis: meningkatkan efisiensi procurement dan kemandirian staf dalam pengelolaan vendor.

Langkah 2: Tentukan Profil Kompetensi Target

Tiga kompetensi yang dianggap penting adalah:

Studi Case Training Plan

Target tersebut menggambarkan kemampuan yang diperlukan agar Raka dapat menjalankan pekerjaannya secara mandiri.

Langkah 3: Nilai Profil Aktual

Berdasarkan observasi dan evaluasi atasan, misalkan level aktual Raka adalah:

Studi Case Training Plan

Angka ini digunakan sebagai asumsi sederhana untuk latihan agar proses perhitungannya mudah diikuti.

Langkah 4: Hitung Competency Gap

Gunakan formula sederhana:

Gap = Target − Aktual

Hasilnya:

Studi Case Training Plan

Dari sini terlihat bahwa Basic Negotiation memiliki gap terbesar.

Namun angka belum otomatis menentukan seluruh keputusan. Tim tetap perlu melihat pentingnya kompetensi bagi pekerjaan dan seberapa cepat kemampuan tersebut dibutuhkan.

Langkah 5: Tentukan Intervensi

Secara praktis, gap kecil dapat dipertimbangkan untuk coaching, mentoring, atau on-the-job learning. Gap yang lebih besar dapat membutuhkan pembelajaran lebih terstruktur.

Untuk kasus Raka:

Vendor Analysis, gap 1
Gunakan mentoring dengan Senior Procurement dan latihan membandingkan quotation aktual.

Basic Negotiation, gap 2
Gunakan workshop negotiation disertai role-play vendor meeting karena gap relatif lebih besar dan kompetensinya penting untuk kemandirian.

ERP Procurement, gap 1
Gunakan guided practice atau buddy system pada proses PR–PO sampai Raka mampu menjalankannya tanpa bantuan.

Terlihat bahwa tiga competency gap tidak otomatis menghasilkan tiga classroom training.

Langkah 6: Ubah Hasil TNA Menjadi Training Plan

Hasil akhirnya dapat dibuat sederhana seperti berikut:

Studi Case Training Plan

Alurnya menjadi jelas:

Target bisnis → Kompetensi target → Kompetensi aktual → Gap → Prioritas → Intervensi → Training Plan

Bukan:

Cari training → Undang peserta → Selesai.

Periksa Akar Masalah Sebelum Training Plan Difinalkan

Ada satu tahap penting sebelum program benar-benar dijalankan: pastikan rendahnya performa memang berasal dari kekurangan skill atau knowledge.

Misalnya Raka terlihat lambat menjalankan proses ERP. Jika penyebabnya memang belum menguasai fitur PR–PO, guided practice relevan. Namun jika sebenarnya ia sudah mampu tetapi hak akses akun sering bermasalah, training ERP tidak akan memperbaiki kinerja.

Perbedaan ini dapat dilihat melalui dua kondisi:

Skill deficiency:
Karyawan belum tahu atau belum mampu melakukan pekerjaan sesuai standar.

Will atau contextual deficiency:
Karyawan sebenarnya mampu, tetapi performa terhambat oleh motivasi, sistem, reward, job design, akses, atau hambatan lain.

Analisis akar masalah membantu menentukan apakah solusinya perlu berupa formal training, practice, feedback, job aid, redesign proses, perubahan konsekuensi, atau penghilangan hambatan kerja.

Penelitian di Journal of Business Research juga menekankan pentingnya TNA dalam membedakan performance gap yang dapat ditangani melalui training dengan kondisi yang membutuhkan intervensi organisasi lainnya. (sciencedirect.com)

Dengan begitu, training plan menjadi lebih kredibel karena setiap program mempunyai alasan yang dapat dijelaskan.

Kesimpulan

Menyusun training plan karyawan bukan sekadar memindahkan daftar pelatihan ke kalender tahunan. Rencana yang baik dimulai dari hasil Training Needs Analysis dan menunjukkan hubungan antara kebutuhan bisnis, competency gap, target peserta, tujuan belajar, metode, waktu, serta penanggung jawab.

Training plan setidaknya perlu menjawab: kompetensi apa yang menjadi prioritas, siapa yang membutuhkan pengembangan, kemampuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mengembangkannya, kapan dilakukan, dan siapa yang memastikan prosesnya berjalan.

Contoh sederhana TNA juga menunjukkan bahwa satu karyawan dapat memiliki beberapa competency gap, tetapi tidak semuanya membutuhkan metode yang sama. Gap kecil dapat diselesaikan melalui mentoring atau praktik kerja. Gap lebih besar dapat membutuhkan program terstruktur. Jika penyebab performanya ternyata bukan kekurangan kemampuan, training bahkan mungkin bukan solusi yang tepat.

Dengan proses seperti ini, hasil TNA tidak berhenti sebagai spreadsheet competency gap. Hasilnya berubah menjadi rencana pengembangan yang dapat dijalankan, diprioritaskan, dan dipertanggungjawabkan terhadap kebutuhan pekerjaan maupun organisasi.

Kamu bisa lebih dalami lagi mengenai Training Plan Karyawan ini dalam program pelatihan yang akan aku rekomendasikan DI SINI

Kelas Terkait

BOOTCAMP - Learning and Development (L&D) Specialist

Kuasai proses L&D secara end-to-end, dari talent mapping dan TNA hingga merancang kurikulum, program pelatihan, assessment, dan Individual Development Plan berbasis kompetensi

Lihat Kelas

Referensi

  1. CIPD — Learning Needs Analysis
  2. SHRM — Learning Needs Assessment Template
  3. Cotes & Ugarte — A Systemic and Strategic Approach for Training Needs Analysis, Journal of Business Research

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu training plan karyawan?

Training plan karyawan adalah rencana pengembangan yang menerjemahkan hasil kebutuhan belajar menjadi program yang lebih operasional, mencakup prioritas, topik, tujuan pembelajaran, peserta, waktu, metode, dan penanggung jawab.

Apa hubungan TNA dengan training plan?

TNA digunakan untuk menemukan kebutuhan dan competency gap. Training plan merupakan tahap berikutnya untuk menentukan bagaimana gap tersebut akan ditangani melalui intervensi yang sesuai.

Apa saja isi training plan?

Training plan dapat mencakup priority, competency field, topic, learning objective, target role, peserta yang membutuhkan pengembangan, waktu, metode, dan responsible person.

Apakah semua gap harus dibuatkan pelatihan?

Tidak. Gap kecil dapat ditangani melalui coaching, mentoring, praktik kerja, job aid, atau metode lain. Jika akar masalahnya bukan skill atau knowledge, solusi non-training dapat lebih tepat.

Bagaimana menentukan prioritas pelatihan?

Pertimbangkan hubungan kompetensi dengan strategi, ukuran gap, urgency, jumlah karyawan terdampak, biaya dan benefit, serta ketersediaan resource.

Siapa yang sebaiknya bertanggung jawab atas training plan?

Tergantung program dan kompetensi yang dikembangkan. Penanggung jawab dapat melibatkan HR/L&D, line manager, subject matter expert, trainer internal, maupun vendor eksternal.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀