Skip to main content

Ioda Academy

Sales & Bizdev · 9 menit baca

7 Cara Mencari Klien B2B dengan Strategi Lead Generation

Daftar Isi

Cara mencari klien B2B – Mendapatkan banyak lead belum tentu membuat penjualan meningkat. Tim sales atau Business Development bisa memiliki ratusan nama perusahaan dalam database, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar memiliki kebutuhan, anggaran, dan kesiapan membeli. Karena itu, cara mencari klien B2B yang efektif bukan sekadar memperbanyak kontak, melainkan menemukan perusahaan yang tepat, melakukan kualifikasi, menghubungi decision maker, dan mengelola prospek sampai menjadi peluang bisnis.

Hal ini sejalan dengan konsep lead qualification. HubSpot menjelaskan bahwa salah satu cara mencari klien B2B adalah dengan melakukan kualifikasi. Kualifikasi dilakukan untuk menilai apakah sebuah lead sesuai dengan produk, memiliki kesiapan membeli, dan berpotensi menjadi pelanggan. Dalam panduan yang diperbarui pada 2026, HubSpot juga mencatat bahwa 27% salespeople dalam Sales Trends Report mereka masih menyatakan membutuhkan lead berkualitas lebih baik dari marketing. Artinya, kualitas prospek tetap menjadi persoalan penting dalam proses penjualan.

Business Development vs Sales Development

Lalu, bagaimana cara mencari klien B2B secara lebih terstruktur?

1. Tentukan Ideal Customer Profile Sebelum Mencari Klien

Menjadi seorang Sales atau Business Development harus menguasai dan paham cara mencari klien B2B. Perlu diperhatikan bahwa langkah pertama bukan membuka LinkedIn atau Google, tetapi menentukan Ideal Customer Profile (ICP). ICP adalah gambaran perusahaan seperti apa yang paling cocok dengan solusi yang kamu tawarkan. Dalam bisnis B2B, kriterianya dapat mencakup industri, lokasi, ukuran perusahaan, jumlah karyawan, anggaran, teknologi yang digunakan, kebutuhan bisnis, pain points, hingga kesiapan membeli.

Misalnya, sebuah perusahaan menjual software HR dan payroll berbasis cloud. Perusahaan dengan 200 karyawan yang masih mengelola payroll melalui spreadsheet mungkin jauh lebih potensial dibanding bisnis dengan lima karyawan yang belum membutuhkan sistem HR kompleks.

Riset HubSpot menempatkan pembuatan ICP sebagai tahap awal dalam proses sales qualification. ICP kemudian digunakan untuk menentukan perusahaan mana yang layak diprioritaskan sebelum tenaga sales menghabiskan waktunya untuk outreach, meeting, dan demo. Gartner juga menyoroti bahwa perjalanan pembelian B2B semakin digital dan tidak linear, sehingga insight mengenai konteks pembelian perlu dimasukkan ke dalam ICP dan buyer journey agar aktivitas marketing dan sales lebih selaras.

Selain menentukan siapa yang ideal, buat juga anti-persona, yaitu karakteristik perusahaan yang tidak perlu diprioritaskan. Misalnya perusahaan yang terlalu kecil, tidak memiliki anggaran, tidak memiliki masalah yang dapat diselesaikan produk, atau belum siap menggunakan solusi yang ditawarkan. Dengan begitu, tim tidak membuang banyak waktu pada perusahaan dengan kemungkinan closing rendah.

2. Bedakan Lead dengan Prospek yang Benar-Benar Potensial

Dalam praktik Business Development, lead dan prospect tidak selalu berarti hal yang sama. Lead dapat berupa calon pelanggan yang sudah masuk ke dalam database atau menunjukkan ketertarikan. Setelah dievaluasi dan dinilai sesuai kriteria perusahaan, lead tersebut dapat berkembang menjadi prospek yang layak dikejar.

Misalnya tim mendapatkan 100 lead dari webinar, LinkedIn, referral, atau database event. Tidak berarti seluruhnya harus langsung menerima proposal. Tim perlu melakukan screening berdasarkan ICP, kebutuhan, budget, decision maker, serta tingkat urgensi.

Dalam tulisan Salesforce menyarankan tim sales mengevaluasi beberapa pertanyaan mendasar saat melakukan kualifikasi, seperti apakah calon pelanggan memiliki kebutuhan terhadap solusi, apakah memiliki anggaran, dan apakah kontak tersebut memiliki posisi dalam pengambilan keputusan. Lead yang tidak memenuhi kriteria dapat membuat pipeline penuh tetapi tidak menghasilkan transaksi.

Jadi, salah satu prinsip utama cara mencari klien B2B adalah mengubah orientasi dari quantity of leads menjadi quality of opportunities.

3. Gunakan LinkedIn untuk Mencari Perusahaan dan Decision Maker

Setelah ICP selesai, LinkedIn dapat digunakan untuk melakukan sourcing. Kamu bisa mencari perusahaan berdasarkan industri, lokasi, nama perusahaan, maupun orang dengan jabatan tertentu. Tujuannya bukan hanya menemukan perusahaan, tetapi juga mengidentifikasi orang yang relevan dengan proses pembelian.

Misalnya kamu menjual software HR. Beberapa jabatan yang mungkin relevan adalah HR Manager, Head of Human Resources, HR Director, atau People Operations Manager.

Pencarian dapat dipersempit menggunakan Boolean Search. LinkedIn secara resmi mendukung operator AND, OR, dan NOT, tanda kutip untuk exact phrase, serta tanda kurung untuk mengelompokkan istilah pencarian. Operator tersebut perlu ditulis menggunakan huruf kapital agar diproses sebagaimana mestinya.

Contohnya:

("HR Manager" OR "HR Director") AND Jakarta atau ("Procurement Manager" OR "Purchasing Manager") AND Manufacturing

Boolean Search membantu tim Business Development mengurangi hasil yang terlalu luas dan lebih cepat menemukan profil yang mendekati target.

Namun, menemukan decision maker belum berarti kamu harus langsung menawarkan produk. Periksa terlebih dahulu perusahaan tempat orang tersebut bekerja dan bandingkan dengan ICP yang sudah dibuat.

4. Gunakan Google Search dan Google Maps untuk Memperluas Sourcing

LinkedIn bukan satu-satunya sumber prospecting. Google Search dapat membantu menemukan perusahaan berdasarkan sektor, lokasi, layanan, asosiasi industri, direktori, maupun karakteristik tertentu.

Google juga menyediakan beberapa operator pencarian yang dapat mempersempit hasil. Misalnya, tanda kutip dapat digunakan untuk mencari frasa tertentu, sedangkan site: membatasi pencarian pada domain tertentu. Google juga mendukung operator lain seperti filetype:, before:, dan after: untuk kebutuhan pencarian yang lebih spesifik.

Contohnya:

"digital agency" Jakarta

site:linkedin.com/company "logistics" Indonesia

"manufacturing company" Surabaya

Selain Google Search, Google Maps dapat digunakan ketika bisnis target memiliki lokasi operasional yang jelas, seperti distributor, manufaktur, hotel, klinik, restoran, retail, atau perusahaan jasa lokal. Tim dapat mengumpulkan nama perusahaan, website, nomor telepon, alamat, dan kategori bisnis sebagai data awal.

Hasil pencarian tetap perlu divalidasi. Jangan menganggap semua perusahaan yang muncul merupakan prospek berkualitas hanya karena berada dalam industri yang sesuai.

5. Buat Database Prospek dan Berikan Skor Prioritas

Hasil sourcing dari LinkedIn, Google, Google Maps, referral, event, media sosial, maupun sumber lainnya perlu dikumpulkan dalam database yang konsisten. Database minimal dapat mencatat nama perusahaan, industri, lokasi, website, ukuran perusahaan, nama PIC, jabatan PIC, email atau nomor kontak, sumber lead, pain point, status prospek, dan catatan follow-up.

Setelah database terbentuk, gunakan sistem prioritas. Misalnya:

  • High Priority: sangat sesuai ICP, memiliki kebutuhan jelas, decision maker ditemukan, dan terdapat indikasi kemampuan membeli.

  • Medium Priority: cukup sesuai ICP tetapi kebutuhan atau timing belum dapat dikonfirmasi.
    Low Priority: hanya memenuhi sedikit kriteria atau belum memiliki kebutuhan relevan.

Pendekatan yang lebih terukur dapat menggunakan lead scoring, yaitu pemberian poin berdasarkan karakteristik dan sinyal tertentu. Perusahaan juga dapat menggunakan lead scoring untuk memprioritaskan lead berdasarkan kemungkinan mereka melakukan pembelian.

Dengan mekanisme ini, Business Development tidak harus memperlakukan 200 perusahaan dalam database dengan intensitas yang sama. Waktu dan energi dapat difokuskan pada prospek dengan peluang terbesar.

6. Kelola Prospek Menggunakan Sales Pipeline

Cara mencari klien B2B salah satunya yaitu Prospek yang sudah ditemukan perlu dilacak perkembangannya. Di sinilah sales pipeline berperan.

Pipeline membantu tim mengetahui posisi masing-masing prospek, misalnya masih dalam tahap awareness, discovery, evaluation, intent, purchase, atau sudah menjadi pelanggan yang perlu dipertahankan. Salesforce menjelaskan bahwa sebelum melakukan pitching, perusahaan perlu memastikan prospek memang sesuai melalui proses lead qualification. Informasi seperti kebutuhan, budget, timeline, dan pengambil keputusan menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Contoh sederhana pipeline Business Development:

Lead masuk → Qualified Prospect → Contacted → Meeting/Discovery → Proposal → Negotiation → Closing → Retention

Tanpa pipeline yang jelas, tim dapat kehilangan jejak follow-up. Ada prospek yang sudah meminta proposal tetapi tidak dihubungi kembali, ada calon klien yang belum siap membeli tetapi terus dihubungi, atau beberapa anggota tim menghubungi perusahaan yang sama tanpa koordinasi. Pipeline membuat aktivitas Business Development lebih terukur karena setiap prospek memiliki status dan next action yang jelas.

7. Lakukan Personalized Outreach, Bukan Sekadar Kirim Penawaran

Setelah mengetahui perusahaan dan decision maker yang tepat, barulah outreach dilakukan melalui email, telepon, LinkedIn, atau channel lainnya. Kesalahan yang sering terjadi adalah mengirim pesan seragam kepada seluruh database.

Bandingkan dua pendekatan berikut.

Pendekatan umum:
“Kami menawarkan software HR terbaik untuk membantu perusahaan Anda. Apakah Bapak/Ibu tertarik untuk demo?”

Pendekatan berbasis konteks:
“Saya melihat perusahaan Anda memiliki beberapa lokasi operasional. Apakah saat ini pengelolaan absensi dan payroll antarcabang sudah menggunakan sistem yang terintegrasi?”

Pesan kedua tidak langsung memaksa prospek membeli. Percakapan dimulai dari konteks dan kemungkinan pain point yang relevan.

Pembagian kualifikasi prospek ada beberapa level, mulai dari kecocokan organisasi, peluang atau kebutuhan bisnis, hingga stakeholder yang terlibat dalam keputusan. Beberapa faktor yang perlu diperiksa meliputi ukuran perusahaan, industri, business pain, kemampuan membeli, serta siapa saja yang memengaruhi keputusan.

Artinya, outreach sebaiknya dilakukan setelah tim mengetahui siapa yang dihubungi, mengapa perusahaan tersebut relevan, dan masalah apa yang kemungkinan dapat diselesaikan.

Jadi, Bagaimana Cara Mencari Klien B2B yang Efektif?

Cara mencari klien B2B yang efektif bukan dengan mengumpulkan database sebanyak mungkin kemudian melakukan cold outreach massal. Prosesnya perlu dimulai dari ICP, sourcing, validasi data, kualifikasi, prioritas, outreach, hingga pengelolaan pipeline.

Alurnya dapat diringkas menjadi:

Tentukan ICP → cari lead → validasi data → kualifikasi prospek → beri skor prioritas → cari decision maker → lakukan outreach → kelola pipeline → closing → retention.

Semakin jelas kriteria prospek yang dicari, semakin kecil kemungkinan tim menghabiskan waktu untuk perusahaan yang tidak membutuhkan solusi. Hal ini juga membuat meeting, demo, proposal, dan aktivitas follow-up lebih terarah.

Belajar Mencari Klien B2B dan B2G Secara Praktis

Memahami konsep dari artikel tentu menjadi langkah awal. Namun, pekerjaan Business Development membutuhkan praktik langsung. Kamu perlu berlatih membuat ICP, melakukan sourcing, mencari decision maker, menyusun database prospek, menentukan skor prioritas, melakukan outreach, dan mengelola percakapan dengan calon klien.

Melalui Workshop Business Development Praktis: Mencari Klien & Partner Strategis (B2B–B2G) dari Ioda Academy, kamu akan mempelajari proses tersebut melalui materi dan project yang dekat dengan aktivitas Business Development sehari-hari. Kurikulumnya mencakup Ideal Customer Profile, lead generation, sales pipeline, LinkedIn Boolean Search, Google Operator, Google Maps, validasi kontak prospek, database B2B, cold outreach, discovery call, consultative selling, hingga sourcing peluang B2G.

Kelas Business Development

Untuk mempelajari strateginya: KLIK DI SINI

Jika kamu ingin membangun skill Business Development yang tidak hanya berhenti pada teori, kelas ini dapat menjadi tempat untuk berlatih mencari, menilai, dan mendekati prospek secara lebih terstruktur.

Referensi

  1. HubSpot – Lead Qualification: Gauging Whether a Lead Aligns With Your Offering
    https://blog.hubspot.com/sales/ultimate-guide-to-sales-qualification
    Panduan mengenai ICP, lead qualification, kriteria prospek, buyer readiness, dan proses menentukan lead yang layak diprioritaskan.

  2. Salesforce Trailhead – Build and Optimize Your Sales Pipeline Effectively
    https://trailhead.salesforce.com/content/learn/modules/sales-pipeline-basics/build-a-healthy-sales-pipeline
    Referensi mengenai kualifikasi lead berdasarkan kebutuhan, budget, decision-making authority, serta penggunaan lead scoring dalam sales pipeline.

  3. Salesforce – What Is a Sales Pipeline?
    https://www.salesforce.com/sales/pipeline/
    Referensi mengenai lead qualification, kebutuhan prospek, budget, timeline, decision maker, dan pengelolaan tahapan sales pipeline.

  4. LinkedIn Help – Use Boolean Search on LinkedIn
    https://www.linkedin.com/help/linkedin/answer/a524335/use-boolean-search-on-linkedin
    Dokumentasi resmi penggunaan AND, OR, NOT, tanda kutip, dan tanda kurung dalam Boolean Search LinkedIn.

  5. Google Search Help – Refine Google Searches
    https://support.google.com/websearch/answer/2466433?hl=id
    Dokumentasi resmi operator Google Search seperti exact phrase, site:, filetype:, before:, dan after:.

  6. Gartner – Drive B2B Growth via Marketing and Sales-Aligned Buyer Journeys
    https://www.gartner.com/en/documents/5344163
    Riset mengenai buyer journey B2B yang semakin digital dan nonlinear serta pentingnya menghubungkan buying context, ICP, marketing, dan sales.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀