Skip to main content

Ioda Academy

Research & Development · 8 menit baca

Formula Sheet Kosmetik Siap Trial? Cek 6 Hal Ini Dulu

Daftar Isi

Sorotan

  • R&D REALITY CHECK: Formula yang terlihat lengkap di spreadsheet belum tentu siap dibuat. Sebelum trial, pastikan formula sudah menjawab product brief, dapat dihitung dengan benar, sesuai regulasi, memiliki logika proses, dan mempunyai parameter evaluasi yang jelas.

Formula sudah selesai disusun. Semua bahan sudah mempunyai persentase. Total komposisi sudah mencapai 100%. Apakah artinya formula tersebut siap dibawa ke laboratorium?

Belum tentu. Formula sheet kosmetik bukan hanya tabel berisi daftar ingredient dan persentase. Dokumen ini menjadi acuan bagi formulator untuk memahami apa yang dibuat, bahan apa yang digunakan, bagaimana formula diproses, serta parameter apa yang perlu diperhatikan ketika trial dilakukan.

Kesalahan kecil pada tahap drafting dapat menghasilkan masalah yang lebih besar ketika formula masuk ke laboratorium. Persentase yang salah, ingredient yang tidak sesuai regulasi, urutan fase yang kurang tepat, atau target pH yang belum ditentukan dapat membuat trial harus diulang. Karena itu, sebelum menimbang bahan pertama, formula perlu melalui beberapa pengecekan dasar.

1. Apakah Formula Sudah Menjawab Product Brief?

Formula sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “bahan apa yang sedang populer?”, tetapi dari kebutuhan produk yang ingin dikembangkan. Product brief memberikan arah mengenai target pengguna, manfaat utama, klaim, bentuk sediaan, tekstur, hingga sensory profile yang diharapkan.

Misalnya perusahaan ingin membuat daily moisturizer yang ringan, cepat menyerap, dan tidak memberikan rasa berminyak. Struktur formula harus mendukung karakter tersebut. Formulator perlu mempertimbangkan jenis emulsi, proporsi oil phase, pilihan emollient, humectant, emulsifier, hingga rheology modifier yang sesuai. Formula dengan terlalu banyak komponen berat mungkin tetap dapat membentuk cream, tetapi tidak lagi menjawab brief awal.

Karena itu, sebelum membahas persentase, coba cek kembali apakah formula sudah menjawab pertanyaan seperti:

  • Siapa target pengguna produk?

  • Apa manfaat utamanya?

  • Tekstur dan skin feel seperti apa yang diinginkan?

  • Apa klaim yang ingin didukung?

  • Apa bentuk sediaannya?

  • Bagaimana produk akan digunakan?

Jika jawaban antara product brief dan formula tidak sejalan, lebih baik diperbaiki sebelum trial daripada setelah sampel selesai dibuat.

2. Apakah Formula Sheet Kosmetik Sudah Memuat Informasi yang Cukup?

Formula sheet yang baik harus dapat dibaca oleh orang lain tanpa membutuhkan penjelasan panjang dari formulator. Nama bahan saja belum cukup. Informasi yang ditampilkan sebaiknya membantu mengidentifikasi bahan, fungsinya, jumlahnya, dan bagaimana bahan tersebut masuk ke dalam proses formulasi.

Dalam praktiknya, formula sheet dapat memuat:

Anatomi Formula Sheet

Format seperti ini membantu mencegah kebingungan antara nama dagang dari supplier dengan nama ingredient yang sebenarnya. Struktur formula moisturizer juga biasanya memisahkan bahan berdasarkan fase seperti water phase, oil phase, dan cool-down phase.

Tidak semua formula sheet harus mempunyai layout yang sama. Yang lebih penting adalah konsistensi informasi. Ketika formula direvisi dari versi 1 menjadi versi 2, tim R&D seharusnya dapat melihat dengan jelas bahan mana yang berubah, berapa persentasenya, dan apa alasan perubahan tersebut.

3. Apakah Total Komposisi Sudah Dihitung dengan Benar?

Persentase dalam formula sheet biasanya ditulis dalam % w/w atau weight by weight. Artinya, setiap ingredient dihitung berdasarkan beratnya terhadap total berat formula. Jika membuat batch 1.000 gram, bahan sebesar 5% setara dengan 50 gram.

Namun, persoalannya tidak selalu sesederhana menjumlahkan seluruh angka sampai 100%. Beberapa formula menggunakan qs atau quantity sufficient, misalnya Aqua qs ad 100%. Artinya, jumlah air disesuaikan untuk melengkapi formula hingga total akhirnya mencapai 100%.

Sebagai contoh sederhana, jika seluruh ingredient selain Aqua berjumlah 27%, maka:

Aqua = 100% − 27% = 73%

Formulator juga perlu lebih teliti ketika menggunakan premix, larutan bahan aktif, atau raw material yang sebenarnya merupakan campuran beberapa komponen. Konsentrasi bahan aktif dalam raw material tidak selalu sama dengan persentase raw material yang dimasukkan ke formula.

Misalnya supplier menyediakan active solution dengan kadar bahan aktif 50%. Menambahkan 4% larutan tersebut tidak berarti formula mengandung 4% bahan aktif murni. Actual active content perlu dihitung kembali berdasarkan konsentrasi bahan yang digunakan.

Kesalahan seperti ini terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi regulatory compliance, efficacy, cost, dan stabilitas produk.

4. Apakah Semua Bahan Sudah Lolos Regulatory Screening?

Formula yang secara teknis terlihat menarik tetap tidak dapat dilanjutkan begitu saja jika ingredient atau konsentrasinya tidak memenuhi ketentuan. Karena itu, formula sheet kosmetik perlu melewati regulatory screening sejak tahap development, bukan baru diperiksa setelah trial selesai.

Di Indonesia, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik saat ini berstatus berlaku. Regulasi ini mengatur persyaratan teknis berbagai kelompok bahan kosmetik dan menggantikan ketentuan sebelumnya.

Regulatory screening tidak hanya menjawab pertanyaan “apakah bahan ini diperbolehkan?”. Formulator juga perlu memeriksa konsentrasi maksimum, kategori produk, area penggunaan, dan restriction lain yang berlaku. Preservative, UV filter, colorant, dan ingredient tertentu dapat mempunyai ketentuan penggunaan yang berbeda.

Karena itu, hindari menggunakan angka konsentrasi hanya karena “formula lain memakai sebanyak itu”. Reference concentration dan regulatory limit adalah dua hal yang berbeda.

REGULATORY CHECK

Sebelum trial, pastikan setiap bahan mempunyai jawaban untuk tiga pertanyaan: boleh digunakan atau tidak, berapa batas penggunaannya, dan apakah ada kondisi khusus untuk kategori produk tersebut.

5. Apakah Struktur Fase dan Prosesnya Sudah Masuk Akal?

Formula sheet tidak boleh dipisahkan dari manufacturing logic. Dua formula dengan komposisi sama dapat menghasilkan produk berbeda jika temperatur, urutan penambahan, mixing, atau cooling-nya berbeda.

Pada moisturizer berbasis emulsi, misalnya, bahan dapat dibagi menjadi water phase, oil phase, dan cool-down phase. Bahan yang sensitif terhadap panas mungkin tidak tepat dimasukkan sejak tahap pemanasan. Emulsifier dan oil phase juga perlu diproses dengan kondisi yang memungkinkan sistem emulsi terbentuk dengan baik.

Karena itu, sebelum trial, formulator perlu membaca formula bukan hanya secara vertikal dari atas ke bawah, tetapi sebagai suatu proses:

Fase mana yang dibuat terlebih dahulu? → Apa yang perlu dipanaskan? → Kapan fase digabungkan? → Kapan homogenisasi dilakukan? → Pada temperatur berapa bahan sensitif ditambahkan? → Bagaimana cooling dilakukan?

Logika proses ini penting karena stabilitas formula tidak hanya dipengaruhi oleh ingredient. Mixing speed, temperatur, urutan proses, dan waktu dapat ikut memengaruhi hasil akhir.

Jika formula baru bisa dibuat ketika formulator terus menjelaskan instruksi secara lisan kepada operator lab, kemungkinan dokumentasinya belum cukup jelas.

6. Apakah Kriteria Keberhasilan Trial Sudah Ditentukan?

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menjalankan trial tanpa menentukan apa yang sebenarnya dianggap “berhasil”. Sampel selesai dibuat, kemudian tim melihat cream tersebut dan mengatakan, “Sepertinya bagus.”

Penilaian seperti itu terlalu subjektif. Sebelum trial dimulai, formulator sebaiknya sudah menentukan parameter apa yang akan diperiksa. Untuk moisturizer, parameter dapat mencakup appearance, warna, aroma, homogenitas, pH, viskositas, hingga tanda-tanda separasi. Nilai targetnya tidak harus sama untuk semua produk karena specification perlu disesuaikan dengan karakter formula dan tujuan produk.

Stability evaluation juga perlu dirancang berdasarkan produk dan kondisi penggunaannya. Panduan European Commission menekankan bahwa pengujian physical stability sebaiknya disesuaikan dengan jenis kosmetik dan intended use, termasuk mempertimbangkan perubahan akibat transportasi, penyimpanan, handling, serta packaging yang digunakan.

Artinya, tidak ada satu angka pH, viskositas, temperatur, atau durasi accelerated testing yang otomatis berlaku untuk semua kosmetik. R&D perlu menetapkan specification berdasarkan karakter produk, data development, dan pendekatan pengujian yang relevan.

POIN PENTING | TENTUKAN TARGET SEBELUM MELIHAT HASIL

Jangan membuat acceptance criteria setelah trial selesai hanya agar hasil terlihat “masuk”.

Tentukan sejak awal parameter yang akan diuji, target atau range yang digunakan, serta kondisi apa yang dianggap membutuhkan reformulasi. Dengan begitu, keputusan development lebih berbasis data.

Setelah Trial, Formula Sheet Bukan Satu-Satunya Dokumen

Setelah trial dilakukan, formula sheet mulai menghasilkan data nyata. Formulator dapat mencatat perubahan proses, hasil pH, viskositas, observation, stability issue, hingga alasan melakukan revisi pada formula berikutnya.

Informasi tersebut dapat dikembangkan menjadi Product Development Report atau PDR, yaitu dokumentasi internal yang merangkum perjalanan pengembangan formula seperti product brief, versi formulasi, hasil evaluasi, dan rekomendasi tahap berikutnya. Formula sheet menunjukkan apa yang dibuat, sedangkan development record membantu menjelaskan mengapa formula berubah dan bagaimana hasil evaluasinya.

Struktur Standar PDR

PDR perlu dibedakan dari Dokumen Informasi Produk Kosmetik atau DIP. DIP merupakan dokumen regulatori yang secara khusus diatur melalui PerBPOM Nomor 17 Tahun 2023 tentang Pedoman Dokumen Informasi Produk Kosmetik, yang hingga saat ini berstatus berlaku. Jadi, dokumentasi development internal dapat membantu mengorganisasi evidence R&D, tetapi bukan berarti otomatis menggantikan kewajiban DIP.

Kapan Formula Layak Dilanjutkan ke Trial Berikutnya?

Setelah hasil diperoleh, tim R&D perlu membuat keputusan. Formula yang belum sempurna tidak selalu berarti gagal total. Trial justru digunakan untuk menemukan gap antara konsep dan hasil aktual.

Jika masalahnya ringan, seperti viscosity yang belum mencapai target, formula mungkin cukup melalui adjustment. Jika terjadi separasi signifikan, incompatibility, atau masalah regulatory, reformulation yang lebih besar mungkin diperlukan.

Secara sederhana, keputusan dapat dibagi menjadi:

Continue → hasil memenuhi target dan dapat masuk evaluasi berikutnya.
Revise → konsep masih layak tetapi membutuhkan adjustment.
Reformulate → terdapat masalah fundamental pada sistem formula.

DECISION GATE

Trial yang menghasilkan masalah tetap memberikan data yang berguna. Yang perlu dihindari justru mengulang formula tanpa mengetahui apa yang diubah dan mengapa.

Formula Stabil Belum Tentu Aman dari Kontaminasi

Setelah formula fisiknya terlihat stabil, R&D masih perlu memperhatikan risiko mikrobiologi. Produk berbasis air seperti moisturizer dapat membutuhkan preservation strategy yang memadai dan evaluasi yang berbeda dari sekadar melihat warna, pH, atau viskositas.

Baca juga: Pengawet Kosmetik: Kenapa Formula Masih Bisa Terkontaminasi?

Kesimpulan

Formula sheet kosmetik bukan hanya daftar ingredient dan persentase. Dokumen ini perlu menunjukkan hubungan antara product brief, fungsi bahan, komposisi, regulatory compliance, manufacturing process, dan parameter evaluasi yang akan digunakan saat trial.

Sebelum formula masuk ke laboratorium, periksa enam hal utama: apakah formula menjawab brief, informasinya lengkap, komposisinya benar, bahannya sesuai regulasi, prosesnya logis, dan acceptance criteria sudah ditentukan. Regulatory screening juga perlu mengacu pada ketentuan terbaru seperti PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025.

Semakin matang pengecekan sebelum trial, semakin mudah R&D memahami hasil sesudah trial. Tujuannya bukan menghindari semua kegagalan, tetapi memastikan setiap trial menghasilkan data yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan development berikutnya.

Kelas Terkait

WPB - Basic R&D di Industri Farmasi (Kosmetik)

Workshop Praktikal Bersertifikat - Basic R&D di Industri Farmasi (Kosmetik) Ioda Academy mencakup latihan penyusunan draft formula sheet, perhitungan total komposisi, validasi batas bahan, stability evaluation, serta Product Development Report.

Lihat Kelas

Referensi

  1. BPOM RI — Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik
  2. BPOM RI — Peraturan BPOM Nomor 17 Tahun 2023 tentang Pedoman Dokumen Informasi Produk Kosmetik
  3. European Commission — Guidelines for the Safety Assessment of the Finished Cosmetic Product

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dimaksud dengan formula sheet kosmetik?

Formula sheet kosmetik adalah dokumen yang mencatat komposisi formula, fungsi bahan, fase, persentase, dan informasi teknis yang dibutuhkan sebagai acuan pengembangan serta trial.

Apakah total formula kosmetik harus 100%?

Ya, total komposisi umumnya harus mencapai 100%. Jika menggunakan qs ad 100%, jumlah bahan tersebut disesuaikan untuk melengkapi formula hingga totalnya 100%.

Apakah formula yang sudah 100% berarti siap trial?

Belum tentu. Formula juga perlu diperiksa dari sisi product brief, regulasi bahan, compatibility, proses pembuatan, dan parameter evaluasi sebelum trial dilakukan.

Artikel Terkait

Diskusi

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Panduan Lengkap Pembelian Bootcamp di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Bootcamp akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Untuk rekaman kelas dan project yang harus dikerjakan selama Bootcamp berlangsung bisa kamu akses di https://studentcenter.iodacademy.id/
  7. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Kelas di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi email dengan benar karena email itu yang akan digunakan untuk mengakses LMS
  3. Selanjutnya kamu silahkan cek Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  4. Semua video learning yang kamu beli dapat kamu akses di https://iodacademy.myr.id/portal dengan cara memasukkan email yang sudah kamu daftarkan di form pendaftaran tadi
    Lihat disini
  5. Terakhir, enjoy the class🚀

Panduan Lengkap Pembelian Workshop Praktikal Bersertifikat di Ioda Academy

  1. Pilih kelas yang kamu mau, lalu kamu bisa klik “Bayar Sekarang”
    Lihat disini
  2. Isi data diri dan metode pembayaran lalu klik “Bayar”
    Lihat disini
    *Pastikan mengisi data dengan benar karena data tersebut yang dilampirkan di sertifikat
  3. Jika kamu sudah melakukan pembayaran, maka link di Mayar akan berubah menjadi seperti ini. Kamu bisa klik bergabung ke grup Whatsapp yang ada di tampilan layar
    Lihat disini
  4. Selain itu kamu juga bisa cek di Email dengan Subject “Resi Pembayaran dan Akses Kelas”
    Lihat disini
  5. Link zoom selama Workshop akan dibagikan melalui Grup Whatsapp
    Lihat disini

  6. Terakhir, enjoy the class🚀