Daftar Isi
Sorotan
- Articulate Rise digunakan untuk mengembangkan kursus digital responsif yang dapat diakses melalui berbagai perangkat.
- Konten dapat menggabungkan teks, gambar, video, audio, aktivitas interaktif, dan asesmen dalam satu alur pembelajaran.
- Rise merupakan authoring tool untuk membuat konten, bukan Learning Management System atau LMS.
- Interaktivitas perlu mendukung tujuan pembelajaran, bukan sekadar menambah aktivitas klik.
- Perencanaan materi, struktur navigasi, asesmen, aksesibilitas, dan pengujian LMS tetap dibutuhkan.
Banyak organisasi telah memiliki bahan pelatihan dalam bentuk PowerPoint, modul PDF, rekaman webinar, atau dokumen prosedur. Permasalahannya, materi tersebut sering berdiri sendiri dan belum membentuk pengalaman belajar yang terarah.
Peserta dapat membuka dokumen atau menonton video, tetapi belum tentu mengetahui urutan belajar, bagian yang perlu diperhatikan, dan cara mengukur pemahamannya. Materi yang panjang juga dapat terasa berat ketika diakses melalui ponsel atau dipelajari secara mandiri.
Interactive e-learning Articulate Rise dapat digunakan untuk mengubah kumpulan materi tersebut menjadi kursus digital yang lebih terstruktur. Teks, visual, video, aktivitas, dan asesmen dapat disusun dalam satu alur yang dapat diakses melalui berbagai perangkat.
Apa Itu Articulate Rise?
Articulate Rise atau Rise 360 adalah aplikasi berbasis web yang digunakan untuk membuat konten e-learning responsif. Tampilan kursus dapat menyesuaikan diri dengan ukuran layar komputer, tablet, dan ponsel tanpa harus mengembangkan desain terpisah untuk setiap perangkat.
Pengembang konten menyusun kursus menggunakan sistem berbasis blok. Blok tersebut dapat berisi teks, gambar, video, audio, pernyataan, kutipan, tabel, daftar, timeline, accordion, flashcard, process, knowledge check, dan berbagai elemen lainnya.
Rise merupakan bagian dari perangkat pengembangan konten, bukan LMS. Artinya, Rise digunakan untuk membuat kursus, sedangkan LMS digunakan untuk mendistribusikan konten, mengelola peserta, memberikan akses, dan memantau penyelesaian pembelajaran.
Dokumentasi resmi Articulate menjelaskan bahwa kursus Rise dapat dipublikasikan ke format LMS seperti SCORM, xAPI, cmi5, dan AICC. Konten juga dapat diekspor untuk penggunaan web atau PDF sesuai kebutuhan distribusi.
Mengapa Organisasi Menggunakan Articulate Rise?
Salah satu keunggulan Rise adalah kemampuannya mengembangkan kursus dengan struktur visual yang konsisten. Tim tidak perlu merancang setiap halaman dari awal karena sistem blok telah menyediakan pola tampilan yang responsif.
Pendekatan tersebut sesuai untuk organisasi yang perlu mengembangkan banyak materi dengan waktu produksi relatif efisien. Contohnya adalah program onboarding, pelatihan kebijakan, pengenalan produk, compliance, pengembangan soft skill, dan pembekalan pengetahuan dasar.
Rise juga memungkinkan beberapa format materi ditempatkan dalam satu course. Sebuah topik dapat diawali dengan penjelasan singkat, dilanjutkan video, contoh kasus, flashcard, knowledge check, dan rangkuman. Peserta tidak harus berpindah-pindah file untuk mengikuti alur tersebut.
Namun, kecepatan produksi tidak boleh mengurangi kualitas desain pembelajaran. Memindahkan isi PowerPoint ke dalam Rise tanpa melakukan kurasi hanya akan menghasilkan modul digital yang panjang. Bentuknya berubah, tetapi pengalaman belajarnya belum tentu membaik.
POIN PENTING | RESPONSIF TIDAK SAMA DENGAN EFEKTIF
Kursus yang dapat dibuka melalui ponsel belum tentu mudah dipelajari. Materi tetap perlu disederhanakan, dibagi menjadi segmen, serta dilengkapi aktivitas yang relevan dengan tujuan pembelajaran.
Materi yang Cocok Dikembangkan Menggunakan Articulate Rise
Rise cocok untuk materi yang membutuhkan alur belajar linear atau semi-linear. Peserta dapat mempelajari materi dari bagian awal hingga akhir, lalu menyelesaikan latihan atau asesmen yang telah disediakan.
Format ini relevan untuk materi yang berfokus pada pemahaman konsep, pengenalan informasi, analisis kasus sederhana, refleksi, dan pengecekan pemahaman. Organisasi juga dapat menggunakannya sebagai performance support yang dapat dibuka kembali ketika karyawan membutuhkan informasi tertentu.
Beberapa contoh penggunaannya meliputi:
onboarding karyawan baru
pengenalan organisasi dan budaya kerja
pelatihan kode etik
sosialisasi kebijakan
product knowledge
customer service
pelatihan dasar keselamatan kerja
cybersecurity awareness
perlindungan data pribadi
anti-fraud dan anti-bribery awareness
pengenalan proses bisnis
materi persiapan sebelum pelatihan tatap muka
rangkuman dan tindak lanjut setelah pelatihan
panduan kerja digital
Materi yang membutuhkan simulasi kompleks, percabangan skenario, manipulasi objek, atau interaksi khusus mungkin lebih sesuai dikembangkan dengan Articulate Storyline. Konten Storyline juga dapat ditempatkan di dalam kursus Rise jika organisasi membutuhkan kombinasi antara struktur yang responsif dan simulasi yang lebih kompleks.
Seperti Apa Interaktivitas dalam Articulate Rise?
Interaktivitas dalam e-learning tidak hanya berarti peserta harus sering mengeklik layar. Interaktivitas yang baik mendorong peserta mengamati, memilih, membandingkan, mengingat, atau mengambil keputusan.
Articulate Rise menyediakan beragam bentuk penyajian yang dapat digunakan sesuai kebutuhan materi. Accordion dapat membantu mengelompokkan informasi. Timeline dapat digunakan untuk menjelaskan urutan. Flashcard dapat digunakan untuk latihan mengingat istilah. Labeled graphic dapat membantu peserta mengeksplorasi bagian pada gambar.
Knowledge check dapat ditempatkan di tengah materi untuk memberikan umpan balik tanpa selalu menjadi penilaian akhir. Sementara itu, quiz dapat digunakan untuk mengukur pencapaian peserta berdasarkan kriteria kelulusan yang telah ditentukan.

Pemilihan elemen perlu mengikuti tujuan pembelajaran. Jika peserta hanya diminta membuka accordion untuk membaca paragraf panjang, aktivitas tersebut belum tentu memberikan nilai instruksional yang berarti.
Struktur Interactive E-Learning Articulate Rise yang Efektif
Kursus perlu memiliki struktur yang membantu peserta memahami tujuan, urutan, dan ekspektasi pembelajaran. Jangan langsung menempatkan peserta pada deretan materi tanpa memberikan konteks.
Pembuka dan orientasi
Bagian awal dapat menjelaskan tujuan pembelajaran, manfaat materi, target peserta, perkiraan waktu, serta petunjuk penggunaan. Informasi ini membantu peserta memahami alasan mereka perlu menyelesaikan kursus.
Pembuka sebaiknya ringkas. Jika halaman pertama sudah dipenuhi latar belakang organisasi dan paragraf panjang, peserta dapat kehilangan fokus sebelum masuk ke materi utama.
Materi inti yang tersegmentasi
Materi perlu dibagi berdasarkan satu konsep atau satu tujuan dalam setiap bagian. Gunakan heading yang informatif agar peserta dapat memperkirakan isi yang akan dipelajari.
Segmentasi juga memudahkan pemutakhiran. Ketika satu prosedur berubah, tim pengelola dapat mengidentifikasi bagian yang perlu diperbarui tanpa meninjau ulang seluruh course.
Contoh dan konteks pekerjaan
Penjelasan konsep perlu dihubungkan dengan situasi yang mungkin dihadapi peserta. Untuk materi perlindungan data, misalnya, peserta tidak hanya mempelajari definisi data pribadi. Mereka juga perlu melihat contoh pengumpulan, penyimpanan, akses, dan pembagian data dalam pekerjaan.
Konteks membantu peserta memahami relevansi materi. Hal ini penting terutama untuk pelatihan wajib yang sering dianggap hanya sebagai persyaratan administratif.
Latihan dan umpan balik
Knowledge check dapat ditempatkan setelah satu kelompok materi. Pertanyaannya perlu mengukur hal yang baru dipelajari, bukan fakta kecil yang tidak berpengaruh pada kompetensi.
Umpan balik juga perlu menjelaskan alasan jawaban benar atau salah. Pernyataan “jawaban kamu belum tepat” tidak cukup membantu peserta memperbaiki pemahaman.
Rangkuman dan tindak lanjut
Bagian akhir dapat merangkum poin utama, memberikan arahan penerapan, dan menjelaskan langkah berikutnya. Peserta mungkin perlu mengunduh job aid, melanjutkan ke asesmen, mengikuti sesi praktik, atau menerapkan prosedur di tempat kerja.
Kesalahan Umum dalam Pengembangan Course Rise
Kesalahan yang paling sering terjadi adalah memperlakukan Rise sebagai tempat memindahkan dokumen. Seluruh isi modul dimasukkan ke dalam course, lalu setiap paragraf dipisahkan menggunakan gambar atau accordion. Hasilnya tetap terasa panjang meskipun tampilannya lebih modern.
Kesalahan lain adalah menggunakan terlalu banyak variasi blok. Pergantian tampilan yang terus-menerus dapat membuat peserta lebih sibuk memahami cara menggunakan halaman daripada mempelajari materinya.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
tujuan pembelajaran tidak dijelaskan
satu lesson memuat terlalu banyak konsep
paragraf terlalu panjang untuk layar ponsel
gambar digunakan sebagai dekorasi
terlalu banyak aktivitas klik tanpa fungsi
video tidak dilengkapi konteks
knowledge check hanya menguji hafalan
umpan balik tidak menjelaskan jawaban
warna dan ilustrasi tidak konsisten
course belum diuji pada perangkat berbeda
output LMS belum diuji sebelum peluncuran
tidak ada penanggung jawab pembaruan konten
QUALITY CHECK | UJI SEBAGAI PESERTA
Jangan hanya memeriksa course melalui tampilan pengembang. Uji kursus menggunakan perangkat, browser, dan LMS yang akan digunakan oleh peserta sebenarnya.
Rise atau Storyline, Mana yang Lebih Sesuai?
Rise dan Storyline memiliki fungsi yang berbeda. Rise cocok untuk pengembangan course responsif dengan struktur berbasis blok. Storyline memberikan kontrol yang lebih luas terhadap layar, trigger, layer, variabel, simulasi, dan percabangan.
PertimbanganArticulate RiseArticulate StorylineStrukturBerbasis blok dan lessonBerbasis slideResponsivitasOtomatis menyesuaikan perangkatMemerlukan pengaturan player dan desainKecepatan pengembanganRelatif cepatBergantung pada kompleksitasFleksibilitas desainMengikuti pola yang tersediaLebih bebasPercabangan kompleksTerbatasLebih kuatSimulasi perangkat lunakTerbatasLebih sesuaiInteraksi khususTerbatas pada fitur atau embedDapat dikembangkan dengan trigger dan variabelCocok untukCourse informasional dan microlearningSimulasi, skenario, dan interaksi kompleks
Pemilihannya tidak harus selalu salah satu. Rise dapat digunakan sebagai struktur utama, kemudian aktivitas Storyline dimasukkan pada bagian yang membutuhkan simulasi atau interaksi khusus.
Tahapan Mengembangkan Interactive E-Learning Articulate Rise
Pengembangan sebaiknya dimulai dari kebutuhan belajar, bukan dari pemilihan blok atau template. Berikut tahapan yang dapat digunakan.
Menganalisis kebutuhan pembelajaran
Identifikasi target peserta, masalah kompetensi, konteks kerja, perangkat, akses internet, dan hasil yang diharapkan.Menentukan tujuan pembelajaran
Rumuskan kemampuan yang perlu ditunjukkan peserta setelah menyelesaikan course.Melakukan kurasi materi
Pilih informasi inti, contoh, prosedur, dan sumber pendukung yang relevan dengan tujuan.Menyusun course outline
Tentukan urutan lesson, topik, aktivitas, asesmen, serta perkiraan durasi.Mengembangkan storyboard
Petakan narasi, teks, visual, video, blok interaktif, dan umpan balik sebelum course dibangun.Mengembangkan konten di Rise
Bangun course menggunakan blok yang sesuai dengan kebutuhan setiap bagian.Menyusun asesmen
Pastikan pertanyaan mengukur tujuan pembelajaran dan memiliki jawaban serta umpan balik yang akurat.Melakukan quality assurance
Periksa substansi, bahasa, visual, navigasi, tautan, aksesibilitas, dan konsistensi identitas organisasi.Menguji kompatibilitas LMS
Publikasikan dalam format yang sesuai, unggah ke lingkungan pengujian, lalu periksa penyelesaian, skor, resume, dan pelaporan.Melakukan evaluasi dan pembaruan
Gunakan data penggunaan, hasil asesmen, dan masukan peserta untuk memperbaiki course.
Hal yang Perlu Disiapkan Sebelum Produksi
Organisasi perlu menyiapkan materi sumber yang valid dan penanggung jawab substansi. Tanpa pemilik materi yang jelas, proses persetujuan dapat berjalan lambat dan menghasilkan banyak revisi.
Kebutuhan teknis juga perlu dibahas sejak awal. Tim perlu mengetahui LMS yang digunakan, standar publikasi yang diterima, aturan penyelesaian course, skor minimum, perangkat peserta, serta bentuk laporan yang dibutuhkan.
Komponen yang perlu disepakati antara lain:
target peserta
tujuan pembelajaran
ruang lingkup materi
durasi belajar
bahasa
identitas visual
kebutuhan audio dan video
bentuk interaksi
jumlah dan jenis asesmen
passing grade
completion rule
format publikasi
aksesibilitas
prosedur review
kepemilikan dan pembaruan sumber konten
Course juga perlu dirancang untuk penggunaan jangka panjang. Ketika regulasi, kebijakan, atau proses kerja berubah, organisasi harus mengetahui bagian yang terdampak dan siapa yang bertanggung jawab memperbaruinya.
Contoh Interactive E-Learning Articulate Rise
Berikut ruang untuk menampilkan contoh interactive e-learning yang dikembangkan menggunakan Articulate Rise sesuai kebutuhan perusahaan, kampus, atau institusi.


Judul course:
Contoh gambar 1: Onboarding Karyawan Baru: Kenali Budaya Kerja dan Cara Berkolaborasi
Contoh gambar 2: Perlindungan Data Pribadi: Praktik Aman Mengelola Data di Tempat Kerja
Konteks penggunaan:
[Contoh: onboarding, compliance, product knowledge, atau pelatihan keselamatan]
Elemen interaktif:
[Contoh: accordion, timeline, flashcard, labeled graphic, scenario, knowledge check, dan quiz]
Format publikasi:
[Contoh: SCORM 1.2, SCORM 2004, xAPI, cmi5, web, atau format lain]
Contoh sebaiknya memperlihatkan beberapa bagian course, bukan hanya halaman sampul. Calon klien perlu melihat bagaimana materi disusun, bagaimana peserta berinteraksi, dan bagaimana asesmen diintegrasikan ke dalam pengalaman belajar.
Cara Mengukur Efektivitas E-Learning
Tingkat penyelesaian course hanya menunjukkan bahwa peserta telah mencapai akhir pembelajaran. Data tersebut belum cukup untuk membuktikan bahwa peserta memahami atau mampu menerapkan materi.
Evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan program. Untuk course pengenalan kebijakan, organisasi dapat mengukur pemahaman terhadap aturan dan keputusan pada kasus tertentu. Untuk product knowledge, evaluasi dapat melihat kemampuan menjelaskan fitur serta memilih solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Indikator yang dapat digunakan meliputi:
tingkat pembukaan dan penyelesaian course
waktu penyelesaian
skor asesmen
jumlah percobaan
soal yang paling sering dijawab salah
umpan balik peserta
kemampuan menerapkan materi
perubahan jumlah kesalahan kerja
kepatuhan terhadap prosedur
kebutuhan pembelajaran lanjutan
Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa multimedia interaktif memiliki potensi mendukung aktivitas dan hasil belajar ketika dirancang sesuai materi serta kebutuhan peserta. Namun, sebagian besar penelitian dilakukan dalam konteks sekolah. Penerapannya pada perusahaan perlu dievaluasi berdasarkan indikator kinerja dan konteks pekerjaan yang relevan. JURNAL PENDIDIKAN DASAR
Kesimpulan
Interactive e-learning Articulate Rise dapat membantu organisasi mengubah materi statis menjadi course digital yang terstruktur, responsif, dan lebih mudah diakses melalui berbagai perangkat. Teks, visual, video, interaksi, serta asesmen dapat ditempatkan dalam satu alur pembelajaran.
Keberhasilan course tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang digunakan. Analisis kebutuhan, tujuan pembelajaran, kurasi materi, storyboard, pemilihan interaksi, kualitas asesmen, pengujian LMS, dan evaluasi tetap menjadi fondasi utamanya.
Rise sesuai untuk course responsif dengan struktur yang relatif terarah. Jika materi membutuhkan simulasi, percabangan, atau interaksi yang sangat khusus, organisasi dapat menggunakan Storyline atau menggabungkan kedua perangkat tersebut dalam satu pengalaman belajar.
Referensi
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Articulate Rise sama dengan LMS?
Tidak. Rise merupakan authoring tool untuk membuat konten e-learning, sedangkan LMS digunakan untuk mendistribusikan course, mengelola peserta, dan mencatat aktivitas pembelajaran.
Apakah course Rise dapat dibuka melalui ponsel?
Ya. Rise menghasilkan course responsif yang menyesuaikan tampilan dengan komputer, tablet, dan ponsel. Course tetap perlu diuji pada perangkat yang digunakan peserta.
Apakah Articulate Rise dapat digunakan untuk membuat simulasi kompleks?
Kemampuannya terbatas dibandingkan Articulate Storyline. Untuk simulasi atau percabangan kompleks, organisasi dapat menggunakan Storyline dan mengintegrasikan hasilnya ke dalam course Rise.
Artikel Terkait
Membuat Game Learning yang Menarik dan Tetap Berorientasi pada Kompetensi
Membuat Game Learning untuk Pelatihan Perusahaan
Podcast Learning sebagai Media Pembelajaran yang Fleksibel dan Mudah Diakses
Podcast Learning untuk Pelatihan dan Pembelajaran
Membuat Pembelajaran Digital Lebih Aktif dengan H5P Interactive Content
H5P Interactive Content untuk Pembelajaran Digital
Diskusi