Daftar Isi
Sorotan
- Asesmen formatif digunakan selama proses belajar untuk memantau pemahaman dan memberikan umpan balik.
- Asesmen sumatif digunakan pada akhir pembelajaran untuk mengukur pencapaian kompetensi.
- Instrumen asesmen harus selaras dengan tujuan pembelajaran dan aktivitas yang akan dilakukan peserta dalam pekerjaan.
- Bentuk asesmen tidak terbatas pada soal pilihan ganda, tetapi dapat berupa studi kasus, simulasi, demonstrasi, dan penugasan berbasis kinerja.
- Data hasil asesmen dapat membantu tim HR dan L&D memperbaiki konten sekaligus menentukan kebutuhan tindak lanjut peserta.
Pelatihan yang menarik belum tentu menghasilkan pembelajaran yang efektif. Peserta dapat menyelesaikan semua video, membaca modul, dan mengikuti aktivitas interaktif, tetapi perusahaan tetap perlu mengetahui apakah mereka benar-benar memahami serta mampu menerapkan materi tersebut.
Di sinilah asesmen memiliki peran penting. Asesmen membantu organisasi memperoleh bukti mengenai perkembangan dan pencapaian belajar peserta.
Sayangnya, asesmen dalam pelatihan masih sering disederhanakan menjadi beberapa soal pilihan ganda di akhir materi. Pertanyaan yang dibuat terkadang hanya menguji ingatan, kurang sesuai dengan tujuan pembelajaran, atau memiliki pilihan jawaban yang terlalu mudah ditebak.
Pengembangan asesmen formatif dan sumatif yang tepat dapat mengubah penilaian dari sekadar formalitas menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Peserta memperoleh umpan balik, fasilitator dapat mengidentifikasi bagian yang belum dipahami, dan organisasi mendapatkan data yang lebih bermakna mengenai pencapaian kompetensi.
Apa Itu Asesmen Formatif dan Sumatif?
Asesmen formatif dan sumatif dibedakan berdasarkan fungsi serta waktu penggunaannya dalam proses pembelajaran.
Asesmen formatif
Asesmen formatif dilakukan selama proses belajar. Tujuannya adalah memantau perkembangan pemahaman peserta, menemukan kesulitan, dan memberikan umpan balik yang dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar. Dalam pelatihan digital, asesmen formatif dapat ditempatkan:
setelah satu bagian materi
di antara beberapa topik
setelah peserta menonton video
di dalam simulasi
sebelum peserta melanjutkan ke materi berikutnya
pada saat refleksi atau diskusi
Hasil asesmen formatif tidak harus selalu digunakan untuk menentukan kelulusan. Nilainya dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta mengetahui bagian yang perlu dipelajari kembali.
Asesmen sumatif
Asesmen sumatif dilakukan setelah peserta menyelesaikan satu unit, modul, atau program pembelajaran. Tujuannya adalah mengukur sejauh mana peserta telah mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Hasil asesmen sumatif dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk:
menentukan kelulusan peserta
memberikan sertifikat penyelesaian
menilai penguasaan materi
memetakan pencapaian kompetensi
menentukan kebutuhan remedial
merencanakan pelatihan lanjutan
Prinsip umumnya sejalan dengan panduan pembelajaran dan asesmen dari Kementerian Pendidikan. Asesmen formatif berorientasi pada pemantauan dan perbaikan proses belajar, sedangkan asesmen sumatif digunakan untuk menilai pencapaian hasil belajar.
Meskipun sumber tersebut dikembangkan untuk pendidikan formal, fungsi dasarnya tetap dapat diadaptasi dalam pelatihan perusahaan dengan menyesuaikan istilah, konteks pekerjaan, dan standar kompetensi organisasi.
Perbedaan Asesmen Formatif dan Sumatif

Asesmen formatif dan sumatif bukan dua pendekatan yang saling menggantikan. Keduanya memiliki fungsi berbeda dan perlu digunakan secara saling melengkapi.
Mengapa Asesmen Penting dalam Pelatihan Perusahaan?
1. Memastikan tujuan pembelajaran benar-benar tercapai
Jumlah peserta yang menyelesaikan modul belum menunjukkan bahwa mereka telah menguasai kompetensi. Asesmen memberikan bukti yang lebih jelas mengenai pengetahuan, keputusan, atau keterampilan yang berhasil dikuasai.
2. Mengidentifikasi kesulitan sebelum terlambat
Asesmen formatif dapat menunjukkan bagian materi yang belum dipahami ketika pembelajaran masih berlangsung. Dengan demikian, peserta dapat menerima umpan balik atau materi penguatan sebelum mengikuti asesmen akhir.
3. Membantu memperbaiki konten pembelajaran
Jika sebagian besar peserta menjawab salah pada pertanyaan yang sama, penyebabnya belum tentu ketidakmampuan peserta. Materi mungkin kurang jelas, contoh kurang relevan, atau soal memiliki redaksi yang membingungkan.
Data tersebut dapat digunakan oleh tim L&D untuk meninjau dan memperbaiki konten.
4. Mendukung keputusan pengembangan kompetensi
Hasil asesmen dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kebutuhan remedial, coaching, praktik tambahan, atau pelatihan lanjutan.
5. Menyediakan standar penilaian yang lebih konsisten
Kisi-kisi, kunci jawaban, rubrik, dan pedoman penskoran membantu memastikan bahwa peserta dinilai menggunakan indikator yang sama.
Asesmen Bukan Sekadar Tes dan Nilai
Asesmen sering disamakan dengan tes. Padahal, tes hanyalah salah satu metode untuk memperoleh bukti belajar.
Jika tujuan pembelajaran menyatakan bahwa peserta mampu “menjelaskan”, pertanyaan tertulis mungkin sudah memadai. Namun, jika peserta diharapkan mampu “melakukan”, “menganalisis”, “menyusun”, atau “menangani”, asesmen perlu meminta peserta menunjukkan kemampuan tersebut.
Sebagai contoh, pelatihan penanganan keluhan pelanggan memiliki tujuan agar peserta mampu memberikan respons yang tepat. Asesmen berupa pertanyaan definisi pelayanan pelanggan belum cukup untuk mengukur kemampuan tersebut.
Bentuk yang lebih sesuai adalah studi kasus atau simulasi percakapan. Peserta diminta memilih respons, menjelaskan alasan, dan menentukan tindak lanjut berdasarkan prosedur perusahaan.
Karena itu, pengembangan asesmen harus dimulai dari kompetensi yang ingin dibuktikan, bukan dari jenis soal yang paling mudah dibuat.
Bentuk Asesmen Formatif yang Dapat Digunakan
Kuis singkat dengan umpan balik
Kuis dapat ditempatkan setelah satu konsep penting. Setiap jawaban perlu disertai penjelasan agar peserta memahami alasan jawabannya tepat atau kurang tepat.
Pertanyaan di dalam video
Video dapat dihentikan pada bagian tertentu untuk menampilkan pertanyaan. Peserta diminta memprediksi langkah berikutnya, mengidentifikasi kesalahan, atau menentukan respons.
Latihan mencocokkan
Peserta mencocokkan istilah dengan definisi, jenis risiko dengan tindakan mitigasi, atau dokumen dengan fungsi penggunaannya.
Skenario keputusan
Peserta menghadapi situasi kerja dan memilih tindakan. Setiap pilihan menghasilkan umpan balik berbeda berdasarkan prosedur atau prinsip yang sedang dipelajari.
Refleksi singkat
Peserta menuliskan pemahaman, kesulitan, atau rencana penerapan materi. Refleksi dapat digunakan untuk mengetahui persepsi peserta dan membantu proses belajar mandiri.
Analisis contoh dan noncontoh
Peserta membandingkan dua dokumen, tindakan, atau hasil pekerjaan. Mereka kemudian menentukan contoh yang lebih tepat dan menjelaskan alasannya.
Demonstrasi bertahap
Peserta mempraktikkan satu bagian keterampilan sebelum melakukan tugas secara utuh. Fasilitator atau sistem memberikan umpan balik pada setiap tahap.
Bentuk Asesmen Sumatif yang Dapat Digunakan
Tes objektif
Tes objektif mencakup pilihan ganda, benar-salah, mencocokkan, dan pilihan jawaban majemuk. Bentuk ini sesuai untuk mengukur pemahaman konsep dalam cakupan materi yang luas.
Namun, soal perlu dirancang agar tidak hanya menguji hafalan. Pertanyaan dapat menggunakan kasus, data, atau situasi kerja sebagai stimulus.
Studi kasus
Peserta menganalisis permasalahan dan menentukan solusi. Studi kasus cocok untuk mengukur kemampuan analisis, penerapan prosedur, dan pengambilan keputusan.
Project atau penugasan
Peserta menghasilkan sebuah output, seperti rencana kerja, laporan, dokumen, desain, atau analisis. Output kemudian dinilai menggunakan rubrik.
Simulasi
Peserta menjalankan tindakan dalam situasi yang menyerupai pekerjaan sebenarnya. Simulasi sesuai untuk materi pelayanan, penjualan, kepemimpinan, keselamatan, kepatuhan, dan penggunaan aplikasi.
Demonstrasi keterampilan
Peserta memperagakan suatu prosedur atau keterampilan. Penilai menggunakan checklist atau rubrik untuk mencatat ketepatan setiap tahapan.
Portofolio
Peserta mengumpulkan beberapa hasil kerja yang menunjukkan perkembangan dan pencapaian kompetensi selama program pembelajaran.
Prinsip Pengembangan Asesmen yang Berkualitas
1. Selaras dengan tujuan pembelajaran
Setiap pertanyaan atau tugas perlu mengukur kompetensi yang disebutkan dalam tujuan pembelajaran.
Jika tujuan meminta peserta menganalisis, asesmen tidak boleh hanya meminta peserta menyebutkan definisi. Jika tujuan meminta peserta membuat dokumen, asesmen seharusnya menghasilkan dokumen yang dapat dinilai.
2. Relevan dengan konteks pekerjaan
Kasus, data, istilah, dokumen, dan pilihan tindakan sebaiknya menyerupai situasi yang benar-benar dihadapi peserta.
Konteks yang relevan membantu perusahaan mengetahui apakah peserta mampu menggunakan pengetahuan dalam pekerjaan, bukan sekadar mengingat isi modul.
3. Memiliki tingkat kesulitan yang proporsional
Asesmen perlu mencakup tingkat kemampuan yang sesuai, mulai dari pemahaman hingga penerapan dan analisis.
Semua pertanyaan tidak harus sulit. Namun, asesmen akhir sebaiknya tidak seluruhnya berisi pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan secara langsung melalui hafalan.
4. Menggunakan bahasa yang jelas
Redaksi soal harus ringkas, tidak ambigu, dan tidak memberikan petunjuk tersembunyi mengenai jawaban benar.
Hindari kalimat negatif bertingkat, informasi yang tidak dibutuhkan, serta istilah yang belum dijelaskan dalam materi.
5. Memiliki kunci jawaban atau rubrik
Soal objektif memerlukan kunci jawaban yang jelas. Studi kasus, project, dan demonstrasi memerlukan rubrik atau pedoman penskoran.
Rubrik membantu penilai melihat indikator yang harus dipenuhi dan mengurangi penilaian berdasarkan kesan umum.
6. Memberikan umpan balik yang bermakna
Umpan balik yang hanya menyatakan “benar” atau “salah” belum membantu peserta memperbaiki pemahaman.
Umpan balik sebaiknya menjelaskan:
alasan jawaban tepat atau kurang tepat
prinsip atau prosedur yang perlu diperhatikan
dampak dari pilihan peserta
bagian materi yang perlu dipelajari kembali
tindakan yang seharusnya dilakukan
Pemberian umpan balik yang spesifik dan konstruktif merupakan bagian penting dari asesmen formatif. Sejumlah penelitian di lingkungan pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa umpan balik formatif dapat membantu peserta mengenali kesalahan dan memperbaiki proses belajarnya.
Tahapan Pengembangan Asesmen Formatif dan Sumatif
1. Menganalisis tujuan pembelajaran
Tentukan pengetahuan, keterampilan, atau perilaku yang harus ditunjukkan peserta setelah mengikuti pelatihan.
Gunakan kata kerja yang dapat diamati, seperti memilih, menghitung, menganalisis, menyusun, mempraktikkan, atau mengevaluasi.
2. Menentukan bukti pencapaian
Tentukan bukti apa yang menunjukkan bahwa kompetensi telah dikuasai.
Sebagai contoh, bukti kemampuan menyusun laporan bukan kemampuan menjawab definisi laporan, melainkan kualitas laporan yang dihasilkan peserta.
3. Menentukan jenis asesmen
Pilih bentuk asesmen yang paling sesuai dengan kompetensi, durasi, jumlah peserta, teknologi, dan sumber daya penilaian.
4. Menyusun kisi-kisi
Kisi-kisi membantu memastikan distribusi asesmen proporsional dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Kisi-kisi dapat memuat:

5. Menulis instrumen
Pertanyaan, kasus, tugas, dan pilihan jawaban dikembangkan berdasarkan kisi-kisi. Setiap butir perlu ditinjau dari sisi kejelasan, relevansi, tingkat kesulitan, serta potensi bias.
6. Menyusun kunci jawaban dan rubrik
Pedoman penskoran harus dibuat bersamaan dengan instrumen, bukan setelah jawaban peserta terkumpul.
Untuk project atau demonstrasi, rubrik perlu menjelaskan aspek penilaian, indikator, bobot, dan kriteria setiap tingkat pencapaian.
7. Melakukan review oleh subject matter expert
Subject matter expert memastikan ketepatan isi, prosedur, istilah, dan solusi yang digunakan dalam asesmen.
Review dari instructional designer juga diperlukan untuk memeriksa keselarasan antara tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen.
8. Melakukan uji coba
Uji coba membantu menemukan pertanyaan ambigu, gangguan teknis, waktu pengerjaan yang tidak realistis, dan kesalahan pada mekanisme penskoran.
9. Menganalisis hasil
Setelah digunakan, perusahaan dapat meninjau pola jawaban, skor rata-rata, tingkat kelulusan, pertanyaan yang paling sering salah, dan masukan peserta.
Hasil tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki asesmen maupun materi pembelajaran.
Asesmen Digital dalam Konten E-Learning
Asesmen formatif dan sumatif dapat dikembangkan sebagai bagian dari e-learning menggunakan perangkat authoring seperti Articulate Rise atau Articulate Storyline.
Beberapa fitur yang dapat diterapkan meliputi:
pilihan ganda
pilihan jawaban majemuk
benar-salah
drag and drop
mencocokkan
mengurutkan langkah
hotspot
pertanyaan berbasis gambar
simulasi percabangan
bank soal acak
batas waktu
skor dan batas kelulusan
umpan balik untuk setiap pilihan
remedial berdasarkan hasil
Jika konten dihubungkan dengan LMS yang kompatibel, data penyelesaian dan hasil asesmen dapat dicatat. Cakupan data bergantung pada format publikasi, konfigurasi LMS, dan rancangan kontennya.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Semua soal hanya menguji hafalan
Peserta mungkin memperoleh nilai tinggi tanpa mampu menerapkan materi. Gunakan kasus dan tugas berbasis kinerja untuk mengukur kemampuan yang lebih mendalam.
Pilihan jawaban tidak seimbang
Jawaban benar sering kali terlihat karena paling panjang, paling lengkap, atau menggunakan istilah yang sama persis dengan materi.
Distraktor tidak masuk akal
Pilihan yang jelas salah membuat soal terlalu mudah. Distraktor sebaiknya berasal dari kesalahan atau miskonsepsi yang memang mungkin dilakukan peserta.
Tidak ada hubungan dengan tujuan pembelajaran
Pertanyaan yang menarik belum tentu relevan. Setiap butir harus memiliki tujuan pengukuran yang jelas.
Umpan balik terlalu umum
Kalimat seperti “jawaban kamu belum tepat” tidak menjelaskan kesalahan atau cara memperbaikinya.
Batas kelulusan ditentukan tanpa dasar
Passing grade perlu mempertimbangkan tingkat kompetensi yang dibutuhkan, risiko kesalahan, kesulitan asesmen, dan kebijakan perusahaan.
Nilai dianggap sebagai satu-satunya bukti efektivitas
Skor asesmen menunjukkan pencapaian belajar pada instrumen tertentu. Skor tersebut belum otomatis membuktikan perubahan perilaku atau dampak bisnis.
Untuk menilai efektivitas pelatihan secara lebih luas, organisasi tetap perlu mengamati penerapan di tempat kerja dan indikator kinerja yang relevan.
Contoh Konten Asesmen Formatif dan Sumatif
Judul E-Learning: Etika Komunikasi dalam Menangani Keluhan Pelanggan
Contoh asesmen formatif
Situasi:
Seorang pelanggan menghubungi layanan perusahaan karena pengirimannya terlambat. Pelanggan berbicara dengan nada tinggi dan meminta penjelasan segera.
Pertanyaan:
Respons awal manakah yang paling tepat?
A. “Keterlambatan tersebut bukan tanggung jawab bagian kami.”
B. “Mohon menunggu karena kami sedang menangani banyak pelanggan.”
C. “Kami memahami ketidaknyamanan yang terjadi. Izinkan kami memeriksa status pengiriman terlebih dahulu.”
D. “Bapak/Ibu dapat menghubungi jasa pengiriman secara langsung.”
Kunci jawaban: C
Contoh umpan balik:
Respons C menunjukkan empati dan kesediaan untuk membantu sebelum memberikan kesimpulan. Respons ini dapat membantu meredakan situasi sekaligus membuka proses pemeriksaan masalah.
Contoh asesmen sumatif
Peserta menghadapi tiga skenario keluhan dengan tingkat kompleksitas berbeda. Pada setiap skenario, peserta harus:
Mengidentifikasi masalah utama.
Memilih respons pembuka.
Menentukan informasi yang perlu dikonfirmasi.
Memilih solusi berdasarkan kewenangan.
Menentukan kebutuhan eskalasi.
Menyusun kalimat penutup.
Hasil peserta dinilai berdasarkan ketepatan prosedur, empati, kejelasan komunikasi, pemilihan solusi, dan dokumentasi tindak lanjut.
Indikator yang Dapat Dilihat dari Hasil Asesmen
Tim HR dan L&D dapat mengamati beberapa indikator berikut:
skor rata-rata peserta
persentase kelulusan
peningkatan hasil dari pre-test ke post-test
tujuan pembelajaran yang paling banyak tercapai
topik yang paling sering dijawab salah
jumlah percobaan yang dibutuhkan
waktu pengerjaan
pola kesalahan peserta
hasil per divisi atau kelompok
kebutuhan remedial dan pengayaan
Interpretasi hasil perlu dilakukan secara hati-hati. Skor rendah dapat menunjukkan kesenjangan pemahaman, tetapi juga dapat disebabkan oleh soal yang ambigu, materi yang kurang jelas, atau gangguan teknis.
Karena itu, data asesmen sebaiknya digunakan sebagai bahan analisis dan perbaikan, bukan hanya sebagai angka kelulusan.
Kesimpulan
Pengembangan asesmen formatif dan sumatif merupakan bagian penting dari desain pembelajaran. Asesmen formatif membantu peserta mengetahui perkembangan belajarnya, sedangkan asesmen sumatif membantu organisasi menilai pencapaian kompetensi setelah pembelajaran selesai.
Agar menghasilkan data yang bermakna, asesmen perlu diselaraskan dengan tujuan pembelajaran, konteks pekerjaan, materi, aktivitas, dan standar kompetensi perusahaan.
Bentuk asesmen juga tidak harus terbatas pada pilihan ganda. Studi kasus, simulasi, project, demonstrasi, dan portofolio dapat digunakan untuk mengukur kemampuan yang lebih dekat dengan pekerjaan sebenarnya.
Ioda Academy menyediakan layanan Pengembangan Konten Pembelajaran, termasuk pengembangan asesmen formatif dan sumatif. Prosesnya dapat mencakup analisis tujuan pembelajaran, penyusunan kisi-kisi, penulisan soal, pembuatan studi kasus, pengembangan rubrik, pembuatan umpan balik, digitalisasi asesmen, hingga pengujian pada LMS.
Referensi
- Standar Nasional Pendidikan: Standar Proses dan Penilaian — Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan
- Panduan Pembelajaran dan Asesmen Edisi Revisi 2025 — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
- Model Penilaian Formatif pada Pembelajaran Abad Ke-21 — Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan utama asesmen formatif dan sumatif?
Asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik dan membantu peserta memperbaiki pemahaman. Asesmen sumatif dilakukan pada akhir pembelajaran untuk mengukur pencapaian kompetensi secara keseluruhan.
Apakah asesmen pelatihan harus selalu menggunakan pilihan ganda?
Tidak. Bentuk asesmen perlu disesuaikan dengan kompetensi yang diukur. Selain pilihan ganda, organisasi dapat menggunakan studi kasus, simulasi, project, demonstrasi, portofolio, atau penugasan berbasis kinerja.
Apakah hasil post-test cukup untuk membuktikan keberhasilan pelatihan?
Belum tentu. Post-test dapat menunjukkan pencapaian belajar pada saat asesmen dilakukan, tetapi belum otomatis membuktikan bahwa peserta menerapkan kompetensi dalam pekerjaan. Evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk melihat perubahan perilaku dan dampak terhadap kinerja.
Artikel Terkait
Membuat Game Learning yang Menarik dan Tetap Berorientasi pada Kompetensi
Membuat Game Learning untuk Pelatihan Perusahaan
Podcast Learning sebagai Media Pembelajaran yang Fleksibel dan Mudah Diakses
Podcast Learning untuk Pelatihan dan Pembelajaran
Membuat Pembelajaran Digital Lebih Aktif dengan H5P Interactive Content
H5P Interactive Content untuk Pembelajaran Digital
Diskusi