Daftar Isi
Sorotan
- Bahan bacaan pembelajaran dapat berbentuk modul, panduan, job aid, atau materi referensi.
- Setiap jenis bahan bacaan memiliki tujuan, struktur, tingkat kedalaman, dan konteks penggunaan yang berbeda.
- Pengembangan bahan bacaan perlu dimulai dari kebutuhan peserta dan tujuan pembelajaran, bukan langsung dari desain halaman.
- Isi dokumen perlu disusun menggunakan struktur, bahasa, contoh, visual, dan navigasi yang membantu peserta belajar.
- Dokumen PDF tetap perlu memperhatikan keterbacaan pada perangkat, ukuran file, kemudahan pencarian, dan aksesibilitas.
- Kualitas bahan bacaan perlu diuji berdasarkan pemahaman dan kemudahan penggunaannya, bukan hanya tampilan visual.
Materi pembelajaran tidak selalu harus disampaikan melalui video, kelas tatap muka, atau e-learning interaktif. Dalam banyak situasi, peserta juga membutuhkan bahan bacaan yang dapat dipelajari, ditandai, dicari, dan digunakan kembali ketika menghadapi pekerjaan tertentu.
Bahan bacaan dapat membantu karyawan memahami konsep, mengikuti prosedur, mempersiapkan diri sebelum pelatihan, atau menemukan informasi saat bekerja. Formatnya dapat berupa modul pembelajaran, panduan, job aid, buku saku, lembar referensi, atau dokumen PDF lainnya.
Namun, membuat bahan bacaan pembelajaran bukan sekadar memindahkan materi presentasi ke dalam dokumen. Slide yang berisi poin-poin singkat belum tentu dapat dipahami tanpa penjelasan fasilitator. Sebaliknya, dokumen yang dipenuhi paragraf panjang juga belum tentu efektif sebagai materi belajar mandiri.
Bahan bacaan yang baik perlu memiliki tujuan yang jelas, struktur yang logis, isi yang akurat, bahasa yang sesuai dengan peserta, serta tampilan yang membantu proses membaca. Peserta perlu mengetahui apa yang harus dipelajari, mengapa materi tersebut penting, bagaimana menerapkannya, dan bagian mana yang dapat digunakan kembali saat bekerja.
Ubah Materi Menjadi Bahan Bacaan yang Lebih Terstruktur
Kembangkan modul, panduan, job aid, atau materi referensi yang disesuaikan dengan kebutuhan belajar, proses kerja, dan identitas visual organisasi.
Tombol CTA: Kembangkan Bahan Bacaan Pembelajaran
Tautan: [Masukkan tautan halaman layanan atau kontak Ioda Academy]
Apa Itu Bahan Bacaan Pembelajaran?
Bahan bacaan pembelajaran adalah konten tertulis dan visual yang dikembangkan untuk membantu peserta memahami, mengingat, atau menerapkan pengetahuan dan keterampilan tertentu.
Bahan bacaan tidak terbatas pada kumpulan penjelasan. Dokumen dapat memuat:
tujuan pembelajaran
penjelasan konsep
prosedur kerja
contoh dan noncontoh
ilustrasi
diagram
tabel
studi kasus
latihan
pertanyaan refleksi
rangkuman
checklist
lembar praktik
tautan menuju sumber tambahan
glosarium
daftar referensi
Susunan komponen tersebut bergantung pada fungsi dokumen. Modul pembelajaran dapat memuat penjelasan dan aktivitas secara bertahap. Job aid justru perlu dibuat lebih ringkas agar informasi dapat ditemukan dengan cepat ketika peserta sedang bekerja.
Format PDF sering dipilih karena tampilan dokumen relatif konsisten saat dibuka melalui perangkat yang berbeda. PDF juga dapat didistribusikan melalui learning management system, email, portal perusahaan, aplikasi komunikasi, atau penyimpanan internal.
Meskipun demikian, penggunaan PDF tidak otomatis membuat sebuah dokumen menjadi bahan pembelajaran yang efektif. Keberhasilan dokumen tetap bergantung pada kualitas isi, struktur informasi, desain pembelajaran, keterbacaan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan peserta.
Fungsi Bahan Bacaan dalam Program Pelatihan
1. Menjadi materi belajar mandiri
Peserta dapat mempelajari materi sesuai waktu dan kecepatannya sendiri. Fungsi ini penting ketika perusahaan memiliki peserta dari unit, jadwal, atau lokasi yang berbeda.
Agar dapat digunakan secara mandiri, dokumen perlu memberikan konteks dan penjelasan yang cukup. Peserta tidak seharusnya bergantung pada penjelasan lisan fasilitator untuk memahami setiap bagian.
2. Mendukung proses pelatihan
Bahan bacaan dapat digunakan sebelum, selama, atau setelah sesi pelatihan.
Sebelum pelatihan, peserta dapat membaca pengantar dan konsep dasar. Selama pelatihan, dokumen dapat menjadi panduan aktivitas. Setelah pelatihan, dokumen dapat digunakan untuk mengulang materi dan mendukung penerapan di tempat kerja.
3. Menstandarkan penyampaian informasi
Dokumen membantu organisasi menyampaikan istilah, prosedur, contoh, dan standar yang sama kepada seluruh peserta.
Standarisasi tetap membutuhkan pengelolaan versi. Jika kebijakan berubah, perusahaan perlu memastikan bahwa peserta tidak menggunakan dokumen lama yang sudah tidak berlaku.
4. Menjadi referensi saat bekerja
Peserta tidak selalu harus menghafal seluruh materi. Untuk pekerjaan yang memiliki banyak langkah, ketentuan, atau pengecualian, bahan referensi dapat membantu peserta menemukan informasi saat dibutuhkan.
5. Mendokumentasikan pengetahuan organisasi
Pengetahuan yang sebelumnya hanya dimiliki oleh subject matter expert dapat diubah menjadi materi yang lebih terstruktur.
Proses ini membantu organisasi mengurangi ketergantungan pada penjelasan individu dan menjaga pengetahuan ketika terjadi perpindahan peran atau pergantian karyawan.
6. Mendukung konsistensi pelaksanaan pekerjaan
Panduan dan job aid dapat digunakan untuk mengurangi langkah yang terlewat, kesalahan urutan, atau perbedaan interpretasi terhadap prosedur.
Dokumen tersebut tidak menggantikan pelatihan praktik jika pekerjaan memerlukan demonstrasi atau supervisi. Namun, bahan bacaan dapat menjadi pengingat dan pendukung saat keterampilan diterapkan.
Jenis Bahan Bacaan Pembelajaran
1. Modul pembelajaran
Modul merupakan bahan belajar yang membahas kompetensi atau topik secara bertahap dan cukup mendalam.
Modul biasanya memiliki struktur seperti:
judul
deskripsi modul
sasaran peserta
prasyarat
tujuan pembelajaran
peta materi
penjelasan konsep
contoh
aktivitas atau latihan
studi kasus
rangkuman
asesmen
kunci atau pedoman jawaban
glosarium
referensi
Modul sesuai ketika peserta perlu melalui proses belajar yang lebih lengkap, bukan hanya mencari satu informasi.
Materi resmi yang tersedia dalam Repositori Kemendikdasmen menunjukkan bahwa modul dapat mengintegrasikan konsep, penerapan praktis, aktivitas, dan pengembangan kemampuan peserta. Struktur tepatnya tetap perlu disesuaikan dengan konteks serta tujuan program yang dikembangkan.
2. Panduan
Panduan menjelaskan cara menjalankan aktivitas, menerapkan kebijakan, menggunakan sistem, atau menyelesaikan proses tertentu.
Panduan dapat berbentuk:
panduan penggunaan aplikasi
panduan onboarding
panduan wawancara
panduan audit
panduan pelayanan pelanggan
panduan pengisian dokumen
panduan fasilitasi
panduan pelaksanaan program
Berbeda dari modul yang memiliki alur belajar, panduan lebih berorientasi pada pelaksanaan. Pengguna biasanya membuka panduan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya.
Salah satu contoh dalam Repositori Kemendikdasmen memperlihatkan fungsi panduan sebagai pegangan dalam menggunakan bahan ajar dan menjalankan strategi pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa panduan perlu memberikan arahan penggunaan, bukan hanya kumpulan informasi mengenai topik.
3. Job aid
Job aid adalah alat bantu ringkas yang digunakan ketika seseorang sedang atau akan menjalankan pekerjaan.
Contoh job aid meliputi:
checklist pemeriksaan
flowchart keputusan
tabel batas kewenangan
kartu langkah kerja
lembar troubleshooting
daftar kode atau istilah
panduan percakapan
template respons
matriks eskalasi
lembar perhitungan
daftar dokumen yang wajib disiapkan
Job aid sebaiknya berisi informasi yang benar-benar diperlukan pada saat bekerja. Penjelasan teori yang panjang dapat menghambat pengguna menemukan tindakan yang harus dilakukan.
4. Materi referensi
Materi referensi menyediakan informasi yang dapat dicari kembali ketika dibutuhkan.
Bentuknya dapat berupa:
kumpulan definisi
ringkasan regulasi
katalog produk
daftar layanan
kamus istilah
tabel standar
kumpulan formula
ringkasan kebijakan
manual teknis
kumpulan contoh dokumen
Materi referensi tidak harus dibaca secara berurutan dari awal sampai akhir. Karena itu, navigasi, daftar isi, indeks, pencarian teks, dan penamaan bagian menjadi penting.
5. Buku saku
Buku saku menyajikan informasi penting dalam format yang lebih ringkas dibandingkan modul atau panduan lengkap.
Buku saku dapat digunakan untuk merangkum:
nilai dan budaya perusahaan
keselamatan kerja
kode etik
standar pelayanan
prinsip kepatuhan
panduan karyawan baru
langkah menghadapi kondisi darurat
Meskipun disebut buku saku, penggunaannya tidak selalu dalam bentuk cetak. Dokumen dapat disiapkan sebagai PDF vertikal yang nyaman dibaca melalui telepon genggam.
6. Workbook atau lembar kerja
Workbook membantu peserta melakukan aktivitas, mencatat hasil analisis, menjawab pertanyaan, dan menghasilkan output selama pembelajaran.
Workbook dapat digunakan bersama kelas, video, modul, atau sesi coaching. Dokumen ini sebaiknya menyediakan instruksi, ruang pengisian, contoh, dan kriteria hasil yang diharapkan.
Perbedaan Modul, Panduan, Job Aid, dan Materi Referensi

Pemilihan format sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan pengguna.
Jika peserta perlu membangun pemahaman dari dasar, modul lebih sesuai. Jika pengguna membutuhkan instruksi pelaksanaan, gunakan panduan. Jika kebutuhan utamanya adalah mengurangi kesalahan saat bekerja, job aid dapat menjadi pilihan.
Satu program juga dapat menggunakan beberapa format sekaligus. Sebagai contoh, pelatihan audit internal dapat menggunakan modul untuk menjelaskan prinsip, panduan untuk memaparkan tahapan audit, job aid berupa checklist pemeriksaan, dan materi referensi untuk merangkum standar yang digunakan.
Bahan Bacaan Bukan Sekadar Salinan Materi Presentasi
Materi presentasi biasanya dikembangkan untuk mendukung penjelasan pembicara. Slide dapat berisi kata kunci, gambar, grafik, atau pertanyaan yang baru memiliki makna lengkap setelah dijelaskan secara lisan.
Jika slide langsung diekspor menjadi PDF tanpa penyesuaian, peserta mungkin menerima materi yang:
terlalu ringkas
kehilangan konteks
tidak memiliki hubungan yang jelas antarbagian
menggunakan gambar tanpa penjelasan
mengandalkan catatan fasilitator
tidak menyediakan instruksi belajar
sulit digunakan sebagai referensi
Sebaliknya, menyalin seluruh transkrip fasilitator ke dalam dokumen juga tidak menyelesaikan masalah. Dokumen dapat menjadi terlalu panjang, repetitif, dan sulit dipindai.
Pengembangan bahan bacaan membutuhkan proses transformasi. Tim perlu mengidentifikasi pesan utama, menambahkan konteks yang dibutuhkan, mengatur urutan, memilih contoh, menyederhanakan bahasa, dan menentukan visual yang benar-benar membantu.
Prinsip Membuat Bahan Bacaan Pembelajaran
1. Mulai dari kebutuhan pengguna
Tentukan siapa yang akan menggunakan dokumen, apa pekerjaannya, pengetahuan awalnya, kendala yang dihadapi, dan kondisi ketika dokumen digunakan.
Panduan untuk karyawan baru tentu memiliki kebutuhan penjelasan berbeda dari panduan untuk tenaga ahli. Job aid yang digunakan di area operasional juga perlu dirancang berbeda dari modul yang dipelajari melalui laptop.
2. Tetapkan tujuan dokumen
Tujuan membantu tim menentukan isi dan struktur dokumen.
Contoh tujuan yang lebih spesifik adalah:
membantu karyawan baru memahami proses pengajuan perjalanan dinas
membantu supervisor melakukan percakapan coaching
membantu petugas memeriksa kelengkapan dokumen pelanggan
membantu staf mengenali dan melaporkan risiko keamanan informasi
Tujuan yang terlalu luas dapat membuat isi dokumen kehilangan fokus.
3. Tentukan tindakan setelah membaca
Tanyakan apa yang perlu dilakukan peserta setelah menggunakan bahan bacaan.
Apakah peserta perlu menjelaskan konsep, mengikuti prosedur, memilih keputusan, mengisi dokumen, melakukan pemeriksaan, atau menyelesaikan masalah?
Jawaban tersebut menentukan apakah dokumen membutuhkan teori, contoh, instruksi, latihan, checklist, atau alat bantu keputusan.
4. Susun struktur yang logis
Informasi dapat disusun berdasarkan:
urutan dari dasar ke lanjutan
tahapan proses
alur waktu
kelompok topik
pertanyaan pengguna
tingkat risiko
peran pengguna
masalah dan solusi
Struktur perlu terlihat melalui judul, subjudul, penomoran, daftar isi, serta hubungan yang konsisten antarbagian.
5. Gunakan bahasa yang jelas
Kalimat sebaiknya langsung, tidak ambigu, dan sesuai dengan tingkat pengetahuan peserta.
Instruksi perlu menggunakan kata kerja yang spesifik. Alih-alih menulis “dokumen perlu diproses dengan benar”, jelaskan siapa yang memproses, dokumen yang digunakan, langkah yang dilakukan, batas waktu, serta hasil yang diharapkan.
6. Berikan konteks dan contoh
Penjelasan konsep akan lebih mudah dipahami ketika peserta dapat melihat penerapannya.
Contoh dapat berupa:
situasi kerja
percakapan
potongan dokumen
data
formulir
perhitungan
keputusan
contoh hasil yang tepat
contoh kesalahan
Contoh perlu mencerminkan kondisi yang realistis dan tidak bertentangan dengan prosedur organisasi.
7. Gunakan visual secara fungsional
Diagram, tabel, ilustrasi, tangkapan layar, dan ikon dapat membantu ketika informasi sulit dijelaskan melalui teks saja.
Visual dapat digunakan untuk menunjukkan:
tahapan
hubungan
posisi
perbandingan
perubahan
struktur
hasil yang diharapkan
Setiap visual perlu memiliki tujuan. Gambar dekoratif yang berlebihan dapat menambah kepadatan halaman tanpa membantu pemahaman.
8. Bangun hierarki informasi
Peserta perlu dapat membedakan antara:
judul
konsep utama
penjelasan
contoh
peringatan
tips
instruksi
referensi tambahan
Hierarki dapat dibentuk melalui ukuran huruf, posisi, jarak, warna, bentuk, dan gaya teks. Penekanan perlu digunakan secara terbatas agar informasi penting tetap terlihat.
9. Buat dokumen mudah dipindai
Sebagian pengguna tidak membaca dokumen secara berurutan. Mereka memindai judul, mencari kata tertentu, atau membuka bagian yang langsung berkaitan dengan kebutuhan.
Untuk mendukung hal tersebut, gunakan:
judul yang informatif
subjudul
daftar
tabel
kata kunci
daftar isi
nomor halaman
bookmark
tautan internal
indeks
glosarium
10. Jaga konsistensi
Gunakan istilah, penulisan, ikon, gaya visual, dan format instruksi secara konsisten.
Jika satu tindakan disebut “eskalasi” pada satu halaman, jangan mengubahnya menjadi “penerusan kasus” pada halaman lain tanpa penjelasan. Ketidakkonsistenan istilah dapat menimbulkan keraguan mengenai apakah keduanya merupakan proses yang sama.
Menyusun PDF yang Mudah Diakses
Aksesibilitas perlu dipertimbangkan sejak dokumen masih berada dalam aplikasi pembuatnya, bukan hanya setelah diekspor menjadi PDF.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi:
Gunakan heading yang terstruktur
Judul dan subjudul tidak cukup hanya dibuat lebih besar atau tebal. Gunakan style heading agar struktur dokumen dapat dikenali oleh teknologi bantu. W3C menjelaskan bahwa heading yang ditandai dalam struktur PDF membantu pengguna teknologi bantu mengenali bagian penting dan berpindah langsung menuju bagian yang dibutuhkan.
Pastikan urutan baca logis
Dokumen dengan banyak kolom, kotak informasi, atau elemen mengambang dapat dibaca dalam urutan yang keliru oleh screen reader. Adobe menjelaskan bahwa tag struktur menentukan urutan baca serta membantu teknologi bantu mengenali heading, paragraf, tabel, dan elemen halaman lainnya.
Tambahkan teks alternatif
Gambar yang membawa informasi perlu memiliki teks alternatif. Deskripsi perlu menjelaskan informasi atau fungsi gambar, bukan hanya menyebutkan bentuk visualnya. Grafik yang kompleks dapat membutuhkan penjelasan tekstual lebih lengkap pada isi dokumen.
Jangan mengandalkan warna saja
Status, kategori, atau peringatan sebaiknya tidak dibedakan hanya melalui warna. Tambahkan label, simbol, pola, atau bentuk agar informasi tetap dapat dipahami oleh pengguna yang tidak dapat membedakan warna tertentu.
Gunakan kontras yang cukup
Warna teks dan latar belakang perlu memiliki perbedaan yang memadai. Hindari teks tipis berwarna terang di atas latar yang juga terang.
Gunakan tautan yang deskriptif
Nama tautan sebaiknya menjelaskan tujuan tautan. Hindari hanya menggunakan teks “klik di sini”. Panduan W3C merekomendasikan penggunaan teks tautan yang menjelaskan isi atau tujuan halaman yang dituju.
Pastikan teks dapat dicari
Dokumen hasil pemindaian dapat terdiri atas gambar halaman sehingga teks tidak dapat dicari atau dibaca teknologi bantu.
Jika dokumen berasal dari hasil pemindaian, lakukan optical character recognition dan periksa kembali ketepatan teksnya. Adobe mencatat bahwa PDF yang hanya berisi gambar hasil pemindaian memerlukan pengenalan teks sebelum fitur aksesibilitas lain dapat digunakan secara efektif.
Periksa dokumen setelah diekspor
Konversi ke PDF dapat memengaruhi tag, tautan, bookmark, tabel, atau urutan baca. Pemeriksaan sebaiknya mencakup:
struktur heading
urutan baca
teks alternatif
bahasa dokumen
bookmark
fungsi tautan
keterbacaan tabel
kemampuan pencarian teks
pengaturan keamanan
tampilan pada perangkat berbeda
Tahapan Membuat Bahan Bacaan dalam Format PDF
1. Menganalisis kebutuhan
Identifikasi:
masalah yang ingin diselesaikan
karakteristik peserta
konteks pekerjaan
perangkat yang digunakan
situasi penggunaan
tingkat kedalaman materi
kebutuhan aksesibilitas
metode distribusi
batas waktu dan sumber daya
Analisis ini membantu tim menentukan apakah hasil akhirnya perlu berupa modul, panduan, job aid, atau kombinasi beberapa format.
2. Menentukan tujuan pembelajaran atau tujuan penggunaan
Jika dokumen digunakan untuk belajar, rumuskan kompetensi yang perlu dikuasai peserta.
Jika dokumen digunakan sebagai alat bantu kerja, rumuskan tugas, keputusan, atau kesalahan yang perlu didukung oleh dokumen tersebut.
3. Mengumpulkan sumber materi
Materi dapat berasal dari:
SOP
kebijakan perusahaan
regulasi
manual sistem
wawancara dengan subject matter expert
rekaman pelatihan
materi presentasi
contoh pekerjaan
laporan
data internal
pertanyaan yang sering diajukan
Setiap sumber perlu diperiksa validitas, versi, pemilik informasi, serta batas penggunaannya.
4. Melakukan pemetaan konten
Kelompokkan materi menjadi:
wajib diketahui
perlu dipahami
perlu dipraktikkan
digunakan sebagai referensi
tidak relevan dengan tujuan dokumen
Pemetaan membantu mencegah seluruh materi dimasukkan hanya karena tersedia.
5. Menyusun outline
Outline menunjukkan urutan dan hubungan antarbagian sebelum penulisan dilakukan.
Contoh outline modul:
Pengantar
Tujuan pembelajaran
Konsep dasar
Proses utama
Contoh penerapan
Studi kasus
Latihan
Rangkuman
Asesmen
Referensi
Contoh outline panduan:
Tujuan panduan
Pengguna
Prasyarat
Peran dan tanggung jawab
Tahapan pelaksanaan
Titik keputusan
Kondisi pengecualian
Penanganan masalah
Kontak eskalasi
Lampiran
6. Menulis naskah awal
Kembangkan isi berdasarkan outline. Pada tahap ini, fokuskan penulisan pada ketepatan dan kejelasan pesan sebelum memperinci desain visual.
Tuliskan penanda untuk kebutuhan visual, misalnya:
diagram alur proses
screenshot halaman login
tabel perbandingan
contoh formulir
kotak peringatan
ilustrasi posisi alat
checklist pemeriksaan
7. Melakukan review isi
Subject matter expert perlu memeriksa:
ketepatan konsep
prosedur
istilah
data
contoh
risiko
batas kewenangan
kepatuhan terhadap regulasi
Instructional designer dapat memeriksa:
keselarasan dengan tujuan
urutan penjelasan
kecukupan contoh
relevansi aktivitas
tingkat kesulitan
kejelasan instruksi
beban materi
8. Mengembangkan desain visual
Terapkan identitas visual organisasi secara konsisten melalui:
palet warna
tipografi
gaya ikon
ilustrasi
header dan footer
gaya tabel
penomoran
kotak informasi
sampul
Desain perlu membantu pengguna memahami dan menemukan informasi. Identitas visual tidak boleh mengurangi keterbacaan.
9. Mengembangkan elemen pendukung
Bergantung pada jenis bahan bacaan, elemen pendukung dapat berupa:
pertanyaan refleksi
latihan
studi kasus
kuis
checklist
template
lembar praktik
ringkasan
glosarium
QR code
tautan video
tautan menuju kebijakan terbaru
Pastikan tautan eksternal dipantau karena alamat dan isi halaman dapat berubah.
10. Melakukan proofreading dan quality assurance
Pemeriksaan perlu mencakup:
ejaan
tata bahasa
penomoran
konsistensi istilah
daftar isi
nomor halaman
rujukan silang
kualitas gambar
fungsi tautan
kesesuaian sumber
versi dokumen
kerahasiaan informasi
11. Menguji dokumen kepada pengguna
Berikan dokumen kepada sejumlah calon pengguna dan minta mereka melakukan tugas tertentu.
Amati apakah mereka dapat:
menemukan informasi
memahami instruksi
menjelaskan konsep
mengikuti prosedur
menggunakan tabel
menyelesaikan latihan
membedakan informasi wajib dan tambahan
Masukan seperti “desainnya bagus” belum cukup. Pengujian perlu melihat apakah dokumen benar-benar dapat digunakan.
12. Mengekspor dan memeriksa PDF
Setelah diekspor, buka dokumen melalui beberapa perangkat dan aplikasi.
Periksa:
tata letak
ukuran huruf
tautan
bookmark
pencarian teks
urutan baca
kualitas gambar
ukuran file
waktu buka
pengaturan cetak
metadata
keamanan dokumen
13. Menentukan sistem versi
Cantumkan:
judul dokumen
nomor versi
tanggal berlaku
pemilik dokumen
pihak yang menyetujui
jadwal review
riwayat perubahan
status kerahasiaan
Sistem versi membantu pengguna memastikan bahwa dokumen yang mereka gunakan masih berlaku.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Memasukkan seluruh informasi
Dokumen menjadi panjang bukan selalu karena materinya kompleks. Penyebabnya dapat berupa kurangnya prioritas dan seleksi informasi.
Masukkan materi berdasarkan tujuan dokumen dan kebutuhan pengguna.
Menggunakan terlalu banyak paragraf panjang
Paragraf panjang dapat menyulitkan peserta memindai informasi.
Pecah materi berdasarkan satu gagasan utama, tetapi jangan memotong tulisan menjadi terlalu banyak bagian singkat tanpa hubungan yang jelas.
Membuat job aid seperti modul
Job aid digunakan untuk membantu tindakan secara cepat. Jika pengguna harus membaca teori beberapa halaman sebelum menemukan langkah kerja, fungsi job aid belum terpenuhi.
Membuat modul seperti slide presentasi
Poin yang terlalu singkat dapat kehilangan konteks ketika dipelajari tanpa fasilitator.
Modul perlu menyediakan penjelasan, hubungan antarkonsep, contoh, dan instruksi yang memadai.
Menggunakan visual hanya sebagai dekorasi
Gambar yang tidak memiliki hubungan dengan materi dapat menambah kepadatan dan ukuran file.
Gunakan visual untuk membantu peserta memahami informasi.
Mengabaikan navigasi
Dokumen panjang tanpa daftar isi, bookmark, nomor halaman, atau judul yang jelas akan menyulitkan pengguna menemukan informasi.
Tidak mencantumkan versi
Pengguna dapat menjalankan prosedur yang sudah tidak berlaku jika dokumen lama masih beredar.
Tidak memeriksa tampilan pada telepon genggam
PDF berukuran A4 dengan teks kecil mungkin nyaman dibaca melalui laptop, tetapi membutuhkan pembesaran berulang pada layar telepon genggam.
Mengekspor hasil pemindaian sebagai PDF
Dokumen mungkin terlihat seperti PDF biasa, tetapi isinya tidak dapat dicari, dipilih, atau dibaca oleh teknologi bantu.
Menggunakan data atau peraturan tanpa sumber
Materi yang memuat angka, standar, atau ketentuan perlu menyebutkan sumber dan periode berlakunya.
Contoh Konten Bahan Bacaan
Judul: Job Aid Pemeriksaan Email Mencurigakan
Target pengguna: Seluruh karyawan
Tujuan penggunaan: Membantu karyawan melakukan pemeriksaan awal dan menentukan tindakan ketika menerima email yang diduga mengandung phishing.
Format: Job aid dua halaman dalam bentuk PDF
Halaman 1: Periksa Sebelum Mengeklik
1. Periksa alamat pengirim
Pastikan domain dan susunan alamat sesuai dengan identitas pengirim. Waspadai perubahan satu huruf, karakter tambahan, atau domain yang menyerupai domain resmi.
2. Periksa isi pesan
Waspadai pesan yang meminta tindakan mendesak, mengancam penutupan akun, menawarkan hadiah, atau meminta informasi rahasia.
3. Periksa tautan
Arahkan kursor ke tautan tanpa mengeklik. Bandingkan alamat tujuan dengan situs resmi yang seharusnya digunakan.
4. Periksa lampiran
Jangan membuka lampiran yang tidak diharapkan, terutama jika pengirim atau tujuan pengirimannya tidak dapat dikonfirmasi.
5. Konfirmasi melalui kanal lain
Jika pesan terlihat berasal dari rekan kerja atau atasan tetapi permintaannya tidak biasa, lakukan konfirmasi melalui kanal resmi yang berbeda.
Halaman 2: Tentukan Tindakan

Peringatan:
Jangan meneruskan email mencurigakan kepada rekan lain untuk meminta pendapat karena tindakan tersebut dapat memperluas paparan. Gunakan fungsi pelaporan atau kanal keamanan informasi yang telah ditentukan perusahaan.
Catatan pengembangan visual:
Gunakan ikon pengirim, pesan, tautan, lampiran, konfirmasi, dan pelaporan.
Bedakan bagian pemeriksaan dan tindakan.
Gunakan warna merah hanya untuk peringatan dan tindakan yang harus dihentikan.
Tambahkan QR code menuju kanal pelaporan jika tersedia.
Cantumkan nomor versi dan tanggal berlaku pada footer.
Cara Mengukur Kualitas Bahan Bacaan
Tampilan profesional belum membuktikan bahwa bahan bacaan efektif.
Kualitasnya dapat diperiksa melalui beberapa indikator:
Pemahaman
Peserta dapat menjelaskan konsep utama.
Peserta dapat membedakan contoh yang tepat dan tidak tepat.
Peserta dapat menjawab pertanyaan berdasarkan isi dokumen.
Kemudahan penggunaan
Pengguna dapat menemukan informasi dalam waktu yang wajar.
Judul dan navigasi membantu proses pencarian.
Instruksi dapat diikuti tanpa penjelasan tambahan.
Dokumen nyaman digunakan melalui perangkat target.
Ketepatan penerapan
Pengguna dapat mengikuti prosedur.
Langkah penting tidak terlewat.
Keputusan yang dipilih sesuai dengan kondisi.
Kesalahan kerja berkurang setelah dokumen digunakan.
Kualitas teknis
Tautan berfungsi.
Teks dapat dicari.
Dokumen tidak memiliki halaman kosong atau konten terpotong.
Gambar tetap terbaca.
Struktur dan urutan baca dapat digunakan oleh teknologi bantu.
Ukuran file sesuai dengan saluran distribusi.
Relevansi
Contoh mencerminkan situasi kerja.
Informasi sesuai dengan kebutuhan peran.
Dokumen tidak memuat materi yang sudah tidak berlaku.
Isi selaras dengan kebijakan dan prosedur terbaru.
Pemanfaatan
Dokumen diakses oleh sasaran pengguna.
Bagian tertentu sering digunakan sebagai referensi.
Pengguna mengetahui lokasi dokumen.
Dokumen digunakan kembali setelah pelatihan.
Hasil evaluasi perlu dibaca sesuai tujuan dokumen. Modul dapat dievaluasi melalui pemahaman dan hasil aktivitas. Job aid lebih tepat dievaluasi melalui kecepatan menemukan informasi, ketepatan tindakan, dan penurunan kesalahan.
Kesimpulan
Membuat bahan bacaan pembelajaran membutuhkan lebih dari kemampuan menulis dan menata halaman.
Tim perlu memahami kebutuhan peserta, tujuan pembelajaran, konteks pekerjaan, karakteristik materi, serta situasi ketika dokumen digunakan. Berdasarkan analisis tersebut, organisasi dapat memilih bentuk yang paling sesuai, seperti modul, panduan, job aid, workbook, buku saku, atau materi referensi.
Modul membantu peserta belajar secara bertahap. Panduan memberikan arahan pelaksanaan. Job aid membantu pengguna mengambil tindakan ketika bekerja. Materi referensi memudahkan pengguna mencari informasi tertentu.
Format PDF dapat membantu mempertahankan tampilan dan memudahkan distribusi. Namun, PDF tetap perlu disiapkan agar memiliki struktur, navigasi, keterbacaan, kemampuan pencarian, dan aksesibilitas yang memadai.
Ioda Academy menyediakan layanan Pengembangan Konten Pembelajaran, termasuk pembuatan modul, panduan, job aid, workbook, buku saku, dan materi referensi dalam format PDF. Proses pengembangan dapat mencakup analisis kebutuhan, pemetaan materi, penulisan naskah, desain pembelajaran, desain visual, pengembangan ilustrasi, review bersama subject matter expert, proofreading, pengujian, hingga finalisasi dokumen.
Referensi
- Modul 1: Ayo Jaga Bumi Kita Kelas 6 Fase C Paket A — Repositori Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
- Panduan Penggunaan Bahan Ajar bagi Pendidik — Repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
- PDF9: Providing Headings by Marking Content with Heading Tags in PDF Documents — Web Accessibility Initiative, W3C
- Accessibility Features in PDFs — Adobe Acrobat
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan modul dan panduan?
Modul dirancang untuk membantu peserta mempelajari suatu kompetensi secara bertahap. Isinya dapat mencakup konsep, contoh, aktivitas, rangkuman, dan asesmen. Panduan lebih berorientasi pada cara menjalankan proses, menggunakan sistem, atau melaksanakan suatu kegiatan.
Apa perbedaan panduan dan job aid?
Panduan dapat menjelaskan proses secara lebih lengkap, termasuk konteks, peran, tahapan, dan penanganan kondisi tertentu. Job aid dibuat lebih ringkas untuk membantu pengguna melakukan tindakan ketika sedang bekerja, misalnya melalui checklist, flowchart, kartu langkah, atau tabel keputusan.
Apakah bahan bacaan cukup dibuat dari materi presentasi?
Belum tentu. Materi presentasi biasanya mengandalkan penjelasan fasilitator. Agar dapat digunakan sebagai bahan bacaan, materi perlu ditambahkan konteks, penjelasan, contoh, struktur, navigasi, dan instruksi yang dapat dipahami secara mandiri.
Apakah semua bahan bacaan harus berbentuk modul panjang?
Tidak. Panjang dan format dokumen perlu mengikuti kebutuhan pengguna. Untuk mengingatkan satu prosedur, job aid satu atau dua halaman dapat lebih sesuai daripada modul. Untuk membangun kompetensi secara menyeluruh, modul yang lebih lengkap mungkin diperlukan.
Apakah PDF dapat digunakan sebagai bagian dari e-learning?
Ya. PDF dapat digunakan sebagai materi utama, bacaan tambahan, panduan aktivitas, workbook, rangkuman, atau materi referensi. Dokumen perlu dioptimalkan agar mudah dibaca melalui perangkat yang digunakan peserta.
Artikel Terkait
Membuat Game Learning yang Menarik dan Tetap Berorientasi pada Kompetensi
Membuat Game Learning untuk Pelatihan Perusahaan
Podcast Learning sebagai Media Pembelajaran yang Fleksibel dan Mudah Diakses
Podcast Learning untuk Pelatihan dan Pembelajaran
Membuat Pembelajaran Digital Lebih Aktif dengan H5P Interactive Content
H5P Interactive Content untuk Pembelajaran Digital
Diskusi